Rabu, 13 Agustus 2014

In Memoriam


17 Syawal

Tanggal bersejarah. Bermula dari sebongkah rasa bahagia di tanggal ini 5 tahun lalu. Seorang bayi yg tidak mungil dengan berat 3,9kg dan panjang 51cm baru saja dilahirkan. Peristiwa melahirkan yang sangat luar biasa dibanding dengan ketiga kakaknya. Selesai operasi saya sempat ditalqin oleh suami sambil dia membayangkan akan mengurus bayi itu seorang diri. Bersyukur itu tidak terjadi. Sang bayi kemudian diberi nama Muhammad Syamil Azmi, yang diharapkan akan menjadi pelengkap kebahagiaan keluarga. Ia tumbuh dengan perkembangan yang sangat mengembirakan. Sebagai ibu saya sudah merasa ada yang lain, kecerdasannya jauh diatas saudara-saudaranya. Tentu saja hal ini memberi harapan berlebih padanya, ditambah dengan tubuh dan rupa yang sangat bagus (segala puji bagi Allah atas semua itu). Syamil kecil telah menjadi idola di keluarga saya.

17 Syawal 2 tahun kemudian

Kullu nafsin dzaaiqotul mauut. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, tidak pandang usia berapapun. Mendadak saja segenap kebahagiaan yang telah terjalin selama 2 tahun terurai tercerai berai begitu saja. Air mata yang tumpah diiringi susu yang masih mengalir deras dari dada yang telah membengkak merindui pemiliknya menjadi saat yang tidak akan terlupakan. Saya menangis dan kami semua berduka. Tak terhitung lagi kata ikhlas dan sabar yg disampaikan oleh semua yang menemui saya. Berbagai kitab yang membahas tentang kesabaran saya lahap habis. Dan semua memberi contoh tentang kesabaran dan keihlasan adalah tentang orang tua yang ditinggal mati sang anak. Rasulullahpun juga menitikkan airmata saat kematian putranya yang bernama Ibrahim.

17 Syawal di hari ini

Kini setelah 3 tahun berlalu, tidak hanya kenangan yang tersisa, tapi ada segunung harapan yang saya miliki dengan memegang janji Allah untuk kami kembali bertemu . Hanya bersandar pada keMahaKuasaanNYAlah yang membuat saya kuat walau tak bisa dipungkiri rasa rindu ini teramat dalam bahkan kadang menyayat hati. Ah, dan kenapa tiba-tiba saja saya menemukan ini di wall milik seorang kawan yg beberapa hari lalu baru meninggal dunia : "Seharusnya musibah tidak boleh membuat kita kehilangan hati kita. Tuhan harus selalu ada dalam hati kita, walau dalam keadaan yang paling berat sekalipun. Sebab, tuhan itu tidak pernah tidur. DIA tahu betul kegelisahan dan jeritan hati kita. DIA maha pengasih lagi maha penyayang. Dan kasihNya selalu datang kepada kita. Pada saat dan cara yang tidak disangka-sangka. Hanya saja kita terlalu kerdil untuk memahaminya" .

Selamat "beristirahat" anakku. Nantikan aku disana. Hanya kesabaran yang ibumu miliki untuk menantikan saat itu


Jakarta, 13 Agustus 2014





Tidak ada komentar:

Posting Komentar