Jangan pernah meremehkan sebuah ucapan.
Tulisan ini dibuat dalam rangka mengenang kejadian 7 tahun lalu, tepat di Bulan Oktober tanggal 6 tahun 2009
Jadi ceritanya saat itu saya sedang mengandung anak keempat dalam 10 tahun penikahan. Sengaja memang tidak menggunakan metode KB apapun sejak awal menikah, mumpung umur belum masuk resiko tinggi. Jadi berapapun anak yang didapat sampai usia 35 ya kami terima saja. Target melahirkan berdasarkan usia, bukan jumlah anak.
Nah pas anak keempat ini kebetulan usia saya 34 tahun. Jadi soal umur masih terpenuhi, sehingga si debay digadang-gadang akan menjadi bayi terakhir dalam pernikahan ini. Karena ada niatan seperti itu persiapan maksimal dilakukan sejak jauh-jauh hari. Sebetulnya semua sama sih, tapi persiapan batin dan mental saya yang dilebihkan. Dari kehamilan anak kedua, sejak dinyatakan positif, kecemasan luar biasa selalu melanda. Selama berbulan-bulan saya membayangkan tentang proses melahirkan yang menyeramkan seperti kelahiran pertama, perasaan itu akan semakin bertambah seiring waktu berjalan dan proses melahirkan semakin dekat. Kelahiran anak kedua masih aman, dia lahir normal dan tidak ada penyulit apapun. Anak ketiga mulai bermasalah. Si debay tidak mau keluar pada waktunya. Jadilah setelah segala macam cara diusakahan, meja operasinya solusinya.
Selain itu persiapan perlengkapan baby juga tak kalah serunya. Kebiasaan saya tiap lahiran selalu membeli perlengkapan yang baru, kecuali tempat tidur dan tempat mandi bayi yang masih awet tersimpan. Bukan tanpa sebab saya selalu membeli pakaian baby yang baru walau sudah anak pertama. Ini sebagai bentuk penghargaan kepada anak yang baru lahir, bahwa dia pun begitu sangat diharapkan kehadirannya. Dan memang perlengkapan lama selalu habis saya bagi-bagi, alhamdulillaah selalu ada yang datang meminta perlengkapan-perlengkapan bayi yang sudah tak terpakai.
Di kehamilan keempat ini segala informasi melahirkan normal pasca sc saya kumpulkan. Ada beberapa teman yang berhasil tapi tidak untuk kasus saya. Si bayi terlalu besar sehingga akan merobek jahitan yang 3 tahun lalu dibuat untuk jalan lahir abangnya. Maka masuk kembali ke ruangan operasi tak bisa terhindarkan.
Karena sejak awal saya sudah beberapa kali mengganti dokter, maka di tiga bulan terakhir harus serius mencari dokter yang pas. Dokter langganan yang sudah bergelar profesor dan memabantu persalinan sebelumnya sudah dicoret dari daftar, ngeri sendiri melihat antrian pasiennya. "bagaimana nanti kalau mau lahiran ada yang bareng, pasti si prof sudah kecapean", begitu pikir saya.
Setelah mencari informasi dari berbagai sumber dan mencoba beberapa kali konsultasi saya langsung klik dengan seorang dokter muda yang pembawaannya sangat menyenangkan dan terlihat pintar waktu menjawab pertanyaan. Itu juga di iyakan oleh suami. Baru kali ini sebelum proses lahiran suami dicari oleh dokter, mengajak bersalaman dan memohon doa agar prosesnya berjalan lancar, dan sesudahnya kembali menghampiri untuk mengucapkan selamat dan mengabarkan proses operasi berjalan lancar. Sangat simpatik.
"Beda banget sama si bapak tua Profesor itu yang datang dari pintu mana juga tidak ketahuan, jadwal visit di kamar selama perawatan juga selalu digantikan dokter lain", demikian suami menyatakan kepuasannya atas servise dokter saya yang terakhir ini.
Semua berjalan lancar sesuai rencana. Kecuali satu, ini anak keempat, berarti sudah tidak ada lagi tanggungan biaya periksa kehamilan dan melahirkan dari perusahaan tempat suami bekerja. Sesuai peraturan, hanya 3 anak yang ditanggung. setelah melalaui berbagai pertimbangan saya memilih melahirkan di tempat praktek dokter yang dimaksud di sebuah rumah sakit bersalin di kawasan Menteng. Fasilitas dan servisenya diterima memang beda dengan di Rumah Sakit swasta yang menjadi langganan dekat rumah.
"Semoga si rejekinya juga rejeki anak Menteng", berseloroh saya menghibur suami yang sempat ternganga melihat tagihannya.
Rejeki anak Menteng. Benarkah demikian ?
Ya, dua tahun kemudian kata-kata saya terjawab. 20 hari sebelum dia berulang tahun yang kedua, atau kalau di bulan hijriyah pas hari itu ulang tahunnya di tanggal 17 Syawal dia dijemput kembali untuk segera menikmati rejekinya sendiri melebihi harapan saya yang hanya memilih Menteng sebagai lambang kemewahan. Surga lebih pantas untuknya.
Maka benarlah, jangan pernah mengabaikan kekuatan kata-kata walaupun itu diucapkan sambil lalu saja.
Kamis, 06 Oktober 2016
Selasa, 04 Oktober 2016
Kemanakah Perginya Nurani
"Musibah ini ujian atau azab"
"Pantas saja disana diturunkan musibah besar begitu, pasti berkaitan dengan perilaku penduduknya"
"Pasti ini gara-gara maksiat yang sudah terlalu banyak dilakukan warga setempat, kini mereka menerima akibatnya"
Demikian komentar-komentar yang berseliweran di sekeliling kita ketika terjadi suatu musibah besar yang menimpa sebuah daerah. Ada satu yang menulis lalu dibagikan beramai-ramai hingga menjadi viral. Seperti yang baru saja terjadi di Garut Jawa Barat, atau bertahun lampau masih segar dalam ingatan tentang musibah tsunami di Aceh. Atas takdir Allah bencana tersebut memakan korban jiwa yang tidak sedikit. Harta benda tak bisa lagi terkata.
Ketika Air mata belum lagi terhapus dari wajah-wajah keluarga korban. Saat Tim Relawan masih berjibaku dengan lumpur menyelamatkan yang masih tersisa, dan bala bantuan masih berusaha menembus titik bencana. Ada sebagian dari kita di kamar yang nyaman atau duduk di sebuah cafe sambil bercanda ria bersama teman-teman, dengan jari-jari halusnya mengklik komentar dari penulis idola mereka atau bahkan dari orang yang mereka sendiri tidak pernah kenal bagaimana kiprah si penulis sesungguhnya yang begitu mudahnya menunjuk hidung korban bencana sebagai pelaku maksiat hingga pantas menerima hukuman dari Tuhan dengan sebegitu dahsyatnya.
Ah, andaikan mereka adalah keluarga si korban. Atau tak usahlah sejauh itu, andaikan mereka membayangkan diri dalam posisi korban. Masihkah akan tega melakukan hal demikian. Kemana hati nurani, mana belas kasihan.
Bahwa kebenaran itu harus dikatakan walau sepahit apapun, itu benar adanya. Tapi tak bisakah menunggu waktu yang tepat untuk berdakwah tanpa menyakiti hati sebagian saudara kita. Muhasabah memang perlu, tapi tak perlu menuding dengan begitu sadisnya. Rasanya mereka lebih membutuhkan bantuan nyata yang dilakukan dengan hati yang bersih.
"itu kan maksudnya buat kita sendiri dan lain agar tidak terulang" begitu alasanmu teman. Tapi benarkah ? Sekarang cobalah tengok ke dalam diri kita sendiri, jangan-jangan maksiat yang kita lakukan lebih besar daripada yang kita sangkakan pada mereka.
astaghfirullah hal adziim. Laa ilaaha illa anta subhanaaka inni kuntum minadzdzoolimiin.
#OneDayOnePost
#harike2
"Pantas saja disana diturunkan musibah besar begitu, pasti berkaitan dengan perilaku penduduknya"
"Pasti ini gara-gara maksiat yang sudah terlalu banyak dilakukan warga setempat, kini mereka menerima akibatnya"
Demikian komentar-komentar yang berseliweran di sekeliling kita ketika terjadi suatu musibah besar yang menimpa sebuah daerah. Ada satu yang menulis lalu dibagikan beramai-ramai hingga menjadi viral. Seperti yang baru saja terjadi di Garut Jawa Barat, atau bertahun lampau masih segar dalam ingatan tentang musibah tsunami di Aceh. Atas takdir Allah bencana tersebut memakan korban jiwa yang tidak sedikit. Harta benda tak bisa lagi terkata.
Ketika Air mata belum lagi terhapus dari wajah-wajah keluarga korban. Saat Tim Relawan masih berjibaku dengan lumpur menyelamatkan yang masih tersisa, dan bala bantuan masih berusaha menembus titik bencana. Ada sebagian dari kita di kamar yang nyaman atau duduk di sebuah cafe sambil bercanda ria bersama teman-teman, dengan jari-jari halusnya mengklik komentar dari penulis idola mereka atau bahkan dari orang yang mereka sendiri tidak pernah kenal bagaimana kiprah si penulis sesungguhnya yang begitu mudahnya menunjuk hidung korban bencana sebagai pelaku maksiat hingga pantas menerima hukuman dari Tuhan dengan sebegitu dahsyatnya.
Ah, andaikan mereka adalah keluarga si korban. Atau tak usahlah sejauh itu, andaikan mereka membayangkan diri dalam posisi korban. Masihkah akan tega melakukan hal demikian. Kemana hati nurani, mana belas kasihan.
Bahwa kebenaran itu harus dikatakan walau sepahit apapun, itu benar adanya. Tapi tak bisakah menunggu waktu yang tepat untuk berdakwah tanpa menyakiti hati sebagian saudara kita. Muhasabah memang perlu, tapi tak perlu menuding dengan begitu sadisnya. Rasanya mereka lebih membutuhkan bantuan nyata yang dilakukan dengan hati yang bersih.
"itu kan maksudnya buat kita sendiri dan lain agar tidak terulang" begitu alasanmu teman. Tapi benarkah ? Sekarang cobalah tengok ke dalam diri kita sendiri, jangan-jangan maksiat yang kita lakukan lebih besar daripada yang kita sangkakan pada mereka.
astaghfirullah hal adziim. Laa ilaaha illa anta subhanaaka inni kuntum minadzdzoolimiin.
#OneDayOnePost
#harike2
Jumat, 23 September 2016
Liliput
Sewaktu ditanya pengalaman apa yang paling diingat semasa kecil, maka ini salah satu yang masih lekat dalam ingatan.
Saat itu kami masih SD kelas rendah, tepatnya kelas 2. Tiba-tiba seisi kelas dibuat heboh dengan beredarnya kabar ada liliput di halaman sekolah. Serentak semua berlari ke halaman, dan ternyata sudah didului oleh kelas lain. Halaman sekolah kami itu sangat luas untuk ukuran Sekolah Dasar, sehingga tidak khawatir kalaupun seisi sekolah turun kesana untuk menangkap si liliput tidak akan kehabisan lahan untuk ditelusuri.
Semua mencari dengan harapan membuncah sambil menyibak setiap ilalang karena liliputnya bersembunyi diantara rerumputan, begitu menurut berita yang kami dengar. Kami berencnaa akan memelihara itu liliput dan dibawa tiap ke sekolah.
"Ukurannya kecil sebesar jari, jadi bisa di taruh di telapak tangan. Bentuknya persis seperti manusia biasa, semuanya sama". Tidak ada yang tahu dari mana awal bermula deskripsi lengkap tersebut. Ini adalah tantangan untuk membuktikan keberadaan seorang liliput hanya dengan berbekal "katanya". Kesibukan yang sempat berjalan berhari-hari di saat istirahat dan pulang sekolah.
Tapi jangan ditanya bahagianya saat itu. Harapan yang sungguh bikin nikmat. Kenikmatan yang akhirnya harus pudar seiring waktu ketika kami semakin besar dan menyadari bahwa liliput atau kurcaci hanya ada di dalam dongeng pengantar tidur.
Kini semakin dewasa fenomena seperti liliput semakin sering kita lihat, ada yang lebih bahagia hidup dalam harapan kosong ketimbang menerima kenyataan. Tak usahlah kita mengulang seperti kejadian di atas, bekerja keras mencari sesuatu yang semu. Hanya dengan belajar dan membaca dari sumber yang benarlah maka kita akan tahu mana yang semu atau nyata.
Saat itu kami masih SD kelas rendah, tepatnya kelas 2. Tiba-tiba seisi kelas dibuat heboh dengan beredarnya kabar ada liliput di halaman sekolah. Serentak semua berlari ke halaman, dan ternyata sudah didului oleh kelas lain. Halaman sekolah kami itu sangat luas untuk ukuran Sekolah Dasar, sehingga tidak khawatir kalaupun seisi sekolah turun kesana untuk menangkap si liliput tidak akan kehabisan lahan untuk ditelusuri.
Semua mencari dengan harapan membuncah sambil menyibak setiap ilalang karena liliputnya bersembunyi diantara rerumputan, begitu menurut berita yang kami dengar. Kami berencnaa akan memelihara itu liliput dan dibawa tiap ke sekolah.
"Ukurannya kecil sebesar jari, jadi bisa di taruh di telapak tangan. Bentuknya persis seperti manusia biasa, semuanya sama". Tidak ada yang tahu dari mana awal bermula deskripsi lengkap tersebut. Ini adalah tantangan untuk membuktikan keberadaan seorang liliput hanya dengan berbekal "katanya". Kesibukan yang sempat berjalan berhari-hari di saat istirahat dan pulang sekolah.
Tapi jangan ditanya bahagianya saat itu. Harapan yang sungguh bikin nikmat. Kenikmatan yang akhirnya harus pudar seiring waktu ketika kami semakin besar dan menyadari bahwa liliput atau kurcaci hanya ada di dalam dongeng pengantar tidur.
Kini semakin dewasa fenomena seperti liliput semakin sering kita lihat, ada yang lebih bahagia hidup dalam harapan kosong ketimbang menerima kenyataan. Tak usahlah kita mengulang seperti kejadian di atas, bekerja keras mencari sesuatu yang semu. Hanya dengan belajar dan membaca dari sumber yang benarlah maka kita akan tahu mana yang semu atau nyata.
"Teman"
Katanya kita ini teman
Oh, salah ya. Baklah akan kuralat. Kataku kita ini teman. Mungkin begitu bisa menjelaskan mengapa tak kau biarkan aku untuk bisa menjamah kabar tentangmu.
Saat memori melayang kembali padamu ingin rasanya kuambil penghapus dan kusapu perlahan agar tak terlihat lagi namamu disana, hanya agar kau merasa tenang tanpa perlu menutup rapat pintu dan daun jendelamu untukku singgah barang sebentar.
Tapi ternyata penghapusanku tak cukup kuat untuk untuk menghilangkan sebuah baris pada satu halamaan diantara ribuan halaman jalan hidupku, bahwa kita pernah bersama sebagai teman. Dan pastinya namaku tertera di halaman bukumu juga tanpa kuasa kau menghapusnya sebesar apapun usahamu. Bukankah begitu.
Untukmu temanku, bukalah jemarimu untuk kita saling bertautan. Rentangkan kembali tanganmu untukku dan katakan "I still be your fiend"
Oh, salah ya. Baklah akan kuralat. Kataku kita ini teman. Mungkin begitu bisa menjelaskan mengapa tak kau biarkan aku untuk bisa menjamah kabar tentangmu.
Saat memori melayang kembali padamu ingin rasanya kuambil penghapus dan kusapu perlahan agar tak terlihat lagi namamu disana, hanya agar kau merasa tenang tanpa perlu menutup rapat pintu dan daun jendelamu untukku singgah barang sebentar.
Tapi ternyata penghapusanku tak cukup kuat untuk untuk menghilangkan sebuah baris pada satu halamaan diantara ribuan halaman jalan hidupku, bahwa kita pernah bersama sebagai teman. Dan pastinya namaku tertera di halaman bukumu juga tanpa kuasa kau menghapusnya sebesar apapun usahamu. Bukankah begitu.
Untukmu temanku, bukalah jemarimu untuk kita saling bertautan. Rentangkan kembali tanganmu untukku dan katakan "I still be your fiend"
Kamis, 15 September 2016
16 September in Memori
Jumat 16 September 5 tahun lalu.
Sama seperti di Jumat pagi hari ini, mengawali hari dengan ceria penuh doa dan harapan. Berbagai rencana untuk seharian itu telah disusun sebagai pertanggungjawaban seorang hamba pada Sang Khaliq, sebagai istri pada suaminya, sebagai anak bagi kedua ibu bapaknya, dan sebagai ibu dari 4 orang anaknya.
Namun apa daya, dunia benar-benar fana. Baru separuh rencana itu berjalan, takdir yang telah lebih dahulu tersusun harus terjadi saat itu juga. Tiada sedetikpun Izroil melalaikan tugasnya. bahkan hanya sekedar memberi kesempatan kepada ibu, ayah, tiga orang kakak dan kakek nenek untuk mengucapkan selamat berpisah.
Hari itu sang takdir telah membuktikan bahwa dialah pemenangnya. Sehebat apapun hubungan rahman dan rahim dua insan bergelar ibu dan anak tak mampu untuk menandingi kehebatannya.
Jumat pagi 16 September 2011 adalah pagi terakhir si ibu menyiapkan sarapan untuk 4 orang buah hati. Itu juga adalah pagi terakhir dia dengan bangga meyebut statusnya sebagai ibu dari 4 orang anak tanpa embel-embel "yang tersisa 3, satunya sudah diambil yang punya".
Jumat 16 September 2016
Adalah bodoh bila 5 tahun kehilangan tidak menjadikan moment yang terlalu mahal tersebut sebagai alasan untuk merayu Sang Pemilik supaya memberikan kembali apa yang sudah pernah diterima untuk disimpan kelak sebagi hadiah terindah di tempat terindah pada waktunya nanti.
Sambil termenung di sudut kamar menikmati setiap belaian cinta dari Pemberi Kehidupan.
Salam
Sama seperti di Jumat pagi hari ini, mengawali hari dengan ceria penuh doa dan harapan. Berbagai rencana untuk seharian itu telah disusun sebagai pertanggungjawaban seorang hamba pada Sang Khaliq, sebagai istri pada suaminya, sebagai anak bagi kedua ibu bapaknya, dan sebagai ibu dari 4 orang anaknya.
Namun apa daya, dunia benar-benar fana. Baru separuh rencana itu berjalan, takdir yang telah lebih dahulu tersusun harus terjadi saat itu juga. Tiada sedetikpun Izroil melalaikan tugasnya. bahkan hanya sekedar memberi kesempatan kepada ibu, ayah, tiga orang kakak dan kakek nenek untuk mengucapkan selamat berpisah.
Hari itu sang takdir telah membuktikan bahwa dialah pemenangnya. Sehebat apapun hubungan rahman dan rahim dua insan bergelar ibu dan anak tak mampu untuk menandingi kehebatannya.
Jumat pagi 16 September 2011 adalah pagi terakhir si ibu menyiapkan sarapan untuk 4 orang buah hati. Itu juga adalah pagi terakhir dia dengan bangga meyebut statusnya sebagai ibu dari 4 orang anak tanpa embel-embel "yang tersisa 3, satunya sudah diambil yang punya".
Jumat 16 September 2016
Adalah bodoh bila 5 tahun kehilangan tidak menjadikan moment yang terlalu mahal tersebut sebagai alasan untuk merayu Sang Pemilik supaya memberikan kembali apa yang sudah pernah diterima untuk disimpan kelak sebagi hadiah terindah di tempat terindah pada waktunya nanti.
Sambil termenung di sudut kamar menikmati setiap belaian cinta dari Pemberi Kehidupan.
Salam
Minggu, 07 Agustus 2016
IRMA 2016
Jangan pernah meremehkan keinginan atau pengharapan dan berdoalah karena itu akan lebih mudah terwujud bila dihadirkan dengan hati. Ini sudah sering saya alami. Seperti misalnya sebuah mega proyek yang sedang saya garap bersama teman-teman di sekitar lingkungan tempat tinggal kami. Tapi jangan dipikir tentang proyek komersil ya temans.
Saya menyebutnya dengan "mega proyek" karena ini berhubungan dengan manusia calon-calon pemimpin di masa depan tanpa melihat sebagai apa mererka nanti, yang pasti pada jamannya mereka akan memimpin minimal untuk keluarga atau malah hanya bagi dirinya sendiri. Bersyukur kalau akhirnya ada yang menjadi pejabat publik, semoga bisa menjadi bekal dari nilai kebaikan yang kami tularkan sekarang.
Berawal dari keinginan pribadi yang sudah beberapa tahun ini yang mulai resah melihat perkembangan dunia remaja yang mulai menuju ke arah mengkhawatikan terseret kemajuan teknologi di tengah merosotnya nila-nilai moral dan akhlak yang baik. Contoh yang paling terlihat nyata berkaca dari ketiga anak sendiri. Mesranya mereka ketika berhaadapan dengan alat-alat komunikasi canggih hingga saya cemburu dibuatnya. Lalu entah malaikat mana yang membisiki hingga terpikirlah untuk mengumpulkan mereka, pernah juga sempat menitip pesan pada teman yang aktif di lingkungan untuk memberikan saya beberapa remaja putri yang mau diajak kumpul rutin membahas apa saja seputar dunia mereka. heuheu kalau dibilang ngaji nanti pada mundur sebelum dimulai.
masih bersambung
Saya menyebutnya dengan "mega proyek" karena ini berhubungan dengan manusia calon-calon pemimpin di masa depan tanpa melihat sebagai apa mererka nanti, yang pasti pada jamannya mereka akan memimpin minimal untuk keluarga atau malah hanya bagi dirinya sendiri. Bersyukur kalau akhirnya ada yang menjadi pejabat publik, semoga bisa menjadi bekal dari nilai kebaikan yang kami tularkan sekarang.
Berawal dari keinginan pribadi yang sudah beberapa tahun ini yang mulai resah melihat perkembangan dunia remaja yang mulai menuju ke arah mengkhawatikan terseret kemajuan teknologi di tengah merosotnya nila-nilai moral dan akhlak yang baik. Contoh yang paling terlihat nyata berkaca dari ketiga anak sendiri. Mesranya mereka ketika berhaadapan dengan alat-alat komunikasi canggih hingga saya cemburu dibuatnya. Lalu entah malaikat mana yang membisiki hingga terpikirlah untuk mengumpulkan mereka, pernah juga sempat menitip pesan pada teman yang aktif di lingkungan untuk memberikan saya beberapa remaja putri yang mau diajak kumpul rutin membahas apa saja seputar dunia mereka. heuheu kalau dibilang ngaji nanti pada mundur sebelum dimulai.
masih bersambung
Jumat, 22 Juli 2016
RUDY HABIBIE
Tergerak dengan seruan seorang sahabat yang sudah terlebih dahulu menonton film ini yang katanya wajib saya tonton. Ya dia tahu persis bahwa salah satu tokoh idola saya adalah Pak Habibie. Sejak kecil sudah kenyang mendengar ayah selalu menyebut nama BJ Habibie adalah aset bangsa yang sangat berharga, jenius, cinta tanah air dan cinta Islam. Kata ayah Pak Habibie terbukti cinta Islam dengan mendirikan ICMI. Beliau juga memilih pulang ke tanah air padahal bila mau hidup tenang dan mapan pemerintah Jerman siap menerima.
Selain hal tersebut di atas ada lagi yang membuat saya selalu menyukai Pak Habibie, sebetulnya ini alasan yang sangat pribadi yaitu kesamaan tanggal lahir. Kami ditakdirkan dilahirkan pada tanggal yang sama 25 Juni. Cie cie cie pake bahasa kami biar berasa kedekatannya. Merasa beruntung dengan kebetulan kesamaan tersebut dan selalu merasa bersyukur, mungkin saya termasuk ke dalam salah satu orang yang berotak cerdas .... gkgkgk pengen nutup muka jadinya. Dan ada satu lagi, beliau pernah bersekolah di ITB. Sampai detik tulisan ini dibuat saya masih percaya ITB adalah tempat mencetak orang-orang keren, pintar dan romantis. Ups ... skip.
Kembali ke film. Saya menonton tanpa membawa pikiran apapun, tanpa berbekal resensi dan percaya saja bahwa wajib nonton karena ini betulan berkualitas tanpa disebutkan bagusnya dimana. Atau mungkin sahabat saya ini ingin membalas kejadian 2 bulan lalu saat saya berhasil menariknya ke gedung bioskop untuk menyaksikan akting Reza dan BCL (pemain utama Ainin Habibi1) bermain dalam film bodoh “My Stupid Boss”. Untuk seorang super sibuk seperti si Ibu direktur ini menonton aksi orang stupid adalah sebuah penyiksaan, maka nama saya yang pertama diingatnya untuk memastikan saya tidak membuang-waktu waktu dengan sesuatu yang tidak bermutu.
Film dimulai dengan latar belakang keluarga Habibie dan tempat dimana beliau dilahirkan dan dibesarkan. Sebuah keluarga yang harmonis dilandasi dengan tanggung jawab terhadap keluarga, orangtua dan agama. Kedekatan Habibie dengan sang ayah, mungkin inilah yang kelak akan menumbuhkan karakter percaya diri pada beliau. Jiwa kepemimpinan telah tertanam sejak kecil, bisa terlihat saat Habibie kecil dengan sigap dalam hitungan detik menggatikan menjadi imam saat ayahnya terjatuh dan meninggal. Dalam berbagai adegan juga digambarkan bagaimana kedua orang tua selalu mendidik dengan landasan agama. Suatu bekal yang sangat berguna ketika dewasa Habibie muda banyak menghadapi masalah di negri nan jauh di sana, beliau selalu sholat untuk menenangkan dirinya. Untuk ini ingin rasanya memberikan keempat jempol untuk mengapresiasi tapi kemudian dibatalkan dengan cukup memberi 2 jempol saja karena sebuah peristiwa yang menurut saya agak janggal.
Pada saat Habibie sedang kalut karena suatu masalah, beiau mencari masjid untuk menenangkan diri dengan sholat seperti kebiasannya selama ini. Tapi berhubung ini adalah negara Jerman yang mayoritas penduduknya adalah Kristen maka bukan masjid melainkan gereja yang didapat. Dengan diiringi rasa bersalah dan memohon ampunan kepada Allah atas keadaan ini maka jadilah beliau menghadap Allah SWT di dalam ruangan gereja sebab memang tidak ditemukan masjid seperti keinginan Habibie. It’s okay untuk sekali ini tidak masalah juga saya pikir, kan darurat dan yang penting suci dari najis dan menghadap kiblat. Yang membuat saya kecewa adalah ketika kejadian itu berulang di lain waktu. Sewaktu membutuhkan ketenangan batin Habibie kembali mendatangi gereja bahkan kemudian terjadi sebuah percakapan yang dikesankan menyejukkan dengan dengan seorang pastur asal Jawa. Srrr ... seketika menangkap sebuah aroma yang sangat halus untuk penggiringan opini bahwa seorang Habibie yang sangat agamis pun bisa begitu saja mengaduk-aduk akidah. Terlalu berat ? Tidak. Siapapun muslim yang pernah mempelajari agamanya dengan benar pasti tahu bahwa keyakinan bahwa Allah SWT Yang Maha Esa adalah mutlak dan itu dibuktikan dengan menjalankan ibadah sesuai aturan dariNya, tidak dicampur aduk. Mungkin betul ini adalah peristiwa yang pernah beliau alami sendiri. Tapi mengapa seperti ingin ditonjolkan dengan mengabadikannya dalam 2 scene.
Dan itu semua terjawab sendiri ketika di akhir film tertulis bahwa ternyata sang Director adalah Hanung Bramantyo. Hmm ... tidak heran lagi, walau kali ini dibuat sehalus mungkin tidak seperti karyanya terdahulu “Perempuan Berkalung Sorban” yang pantas dilepehkan sejak awal karena telah dengan sengaja menggambarkan Islam dalam versinya sendiri dengan sangat kasar dan kentara. Maka dengan sinis saya berikan 2 jempol yang tidak jadi tadi untuk misinya Bung Hanung. Sangat halus, tidak terasa namun mengena. Bukan golongan JIL namanya kalau tidak ada maksud tersembunyi untuk menjauhkan umat Islam dengan aturan agamanya sendiri.
Tapi diluar kekecewaan tadi saya tetap merekomendasi film ini untuk ditonton oleh keluarga Indonesia atas keteladanan karakter tokoh di dalamnya. Seperti sang ibunda, bagaimana beliau menyelesaikan masalah dengan anggun namun tetap menampilkan ketegasan. Cukup terobati juga kerinduan pada akting Dian Nitami yang berwajah dingin saat medatangi Ilona namun kembali mencair dan hangat dalam percakapan. Ciri khas wanita Jawa. Atau karakter ayah yang pastinya karakter ini sangat dirindukan oleh para istri dan ibu dimanapun. Setting tempat antara Jerman, Pare Pare, Gorontalo, Makassar dan Bandung juga tidak membuat bosan. Sangat indah menyaksikan salju di musim diantara gedung tinggi kokoh serta teratur diselingi dengan pemandangan alam Indonesia di masa perang melawan Jepang. Jadi kesimpulannya film ini tetap layak ditonton walau untuk anak anak harus dengan pendampingan penuh karena khawatir apa-apa yang ada di dalam film tersebut dianggap benar semua dan bisa ditiru dalam kehidupan sehari-hari. Selamat menyaksikan film 2 jempol ini semoga dapat mengambil hikmah yang besar di dalamnya.
Selain hal tersebut di atas ada lagi yang membuat saya selalu menyukai Pak Habibie, sebetulnya ini alasan yang sangat pribadi yaitu kesamaan tanggal lahir. Kami ditakdirkan dilahirkan pada tanggal yang sama 25 Juni. Cie cie cie pake bahasa kami biar berasa kedekatannya. Merasa beruntung dengan kebetulan kesamaan tersebut dan selalu merasa bersyukur, mungkin saya termasuk ke dalam salah satu orang yang berotak cerdas .... gkgkgk pengen nutup muka jadinya. Dan ada satu lagi, beliau pernah bersekolah di ITB. Sampai detik tulisan ini dibuat saya masih percaya ITB adalah tempat mencetak orang-orang keren, pintar dan romantis. Ups ... skip.
Kembali ke film. Saya menonton tanpa membawa pikiran apapun, tanpa berbekal resensi dan percaya saja bahwa wajib nonton karena ini betulan berkualitas tanpa disebutkan bagusnya dimana. Atau mungkin sahabat saya ini ingin membalas kejadian 2 bulan lalu saat saya berhasil menariknya ke gedung bioskop untuk menyaksikan akting Reza dan BCL (pemain utama Ainin Habibi1) bermain dalam film bodoh “My Stupid Boss”. Untuk seorang super sibuk seperti si Ibu direktur ini menonton aksi orang stupid adalah sebuah penyiksaan, maka nama saya yang pertama diingatnya untuk memastikan saya tidak membuang-waktu waktu dengan sesuatu yang tidak bermutu.
Film dimulai dengan latar belakang keluarga Habibie dan tempat dimana beliau dilahirkan dan dibesarkan. Sebuah keluarga yang harmonis dilandasi dengan tanggung jawab terhadap keluarga, orangtua dan agama. Kedekatan Habibie dengan sang ayah, mungkin inilah yang kelak akan menumbuhkan karakter percaya diri pada beliau. Jiwa kepemimpinan telah tertanam sejak kecil, bisa terlihat saat Habibie kecil dengan sigap dalam hitungan detik menggatikan menjadi imam saat ayahnya terjatuh dan meninggal. Dalam berbagai adegan juga digambarkan bagaimana kedua orang tua selalu mendidik dengan landasan agama. Suatu bekal yang sangat berguna ketika dewasa Habibie muda banyak menghadapi masalah di negri nan jauh di sana, beliau selalu sholat untuk menenangkan dirinya. Untuk ini ingin rasanya memberikan keempat jempol untuk mengapresiasi tapi kemudian dibatalkan dengan cukup memberi 2 jempol saja karena sebuah peristiwa yang menurut saya agak janggal.
Pada saat Habibie sedang kalut karena suatu masalah, beiau mencari masjid untuk menenangkan diri dengan sholat seperti kebiasannya selama ini. Tapi berhubung ini adalah negara Jerman yang mayoritas penduduknya adalah Kristen maka bukan masjid melainkan gereja yang didapat. Dengan diiringi rasa bersalah dan memohon ampunan kepada Allah atas keadaan ini maka jadilah beliau menghadap Allah SWT di dalam ruangan gereja sebab memang tidak ditemukan masjid seperti keinginan Habibie. It’s okay untuk sekali ini tidak masalah juga saya pikir, kan darurat dan yang penting suci dari najis dan menghadap kiblat. Yang membuat saya kecewa adalah ketika kejadian itu berulang di lain waktu. Sewaktu membutuhkan ketenangan batin Habibie kembali mendatangi gereja bahkan kemudian terjadi sebuah percakapan yang dikesankan menyejukkan dengan dengan seorang pastur asal Jawa. Srrr ... seketika menangkap sebuah aroma yang sangat halus untuk penggiringan opini bahwa seorang Habibie yang sangat agamis pun bisa begitu saja mengaduk-aduk akidah. Terlalu berat ? Tidak. Siapapun muslim yang pernah mempelajari agamanya dengan benar pasti tahu bahwa keyakinan bahwa Allah SWT Yang Maha Esa adalah mutlak dan itu dibuktikan dengan menjalankan ibadah sesuai aturan dariNya, tidak dicampur aduk. Mungkin betul ini adalah peristiwa yang pernah beliau alami sendiri. Tapi mengapa seperti ingin ditonjolkan dengan mengabadikannya dalam 2 scene.
Dan itu semua terjawab sendiri ketika di akhir film tertulis bahwa ternyata sang Director adalah Hanung Bramantyo. Hmm ... tidak heran lagi, walau kali ini dibuat sehalus mungkin tidak seperti karyanya terdahulu “Perempuan Berkalung Sorban” yang pantas dilepehkan sejak awal karena telah dengan sengaja menggambarkan Islam dalam versinya sendiri dengan sangat kasar dan kentara. Maka dengan sinis saya berikan 2 jempol yang tidak jadi tadi untuk misinya Bung Hanung. Sangat halus, tidak terasa namun mengena. Bukan golongan JIL namanya kalau tidak ada maksud tersembunyi untuk menjauhkan umat Islam dengan aturan agamanya sendiri.
Tapi diluar kekecewaan tadi saya tetap merekomendasi film ini untuk ditonton oleh keluarga Indonesia atas keteladanan karakter tokoh di dalamnya. Seperti sang ibunda, bagaimana beliau menyelesaikan masalah dengan anggun namun tetap menampilkan ketegasan. Cukup terobati juga kerinduan pada akting Dian Nitami yang berwajah dingin saat medatangi Ilona namun kembali mencair dan hangat dalam percakapan. Ciri khas wanita Jawa. Atau karakter ayah yang pastinya karakter ini sangat dirindukan oleh para istri dan ibu dimanapun. Setting tempat antara Jerman, Pare Pare, Gorontalo, Makassar dan Bandung juga tidak membuat bosan. Sangat indah menyaksikan salju di musim diantara gedung tinggi kokoh serta teratur diselingi dengan pemandangan alam Indonesia di masa perang melawan Jepang. Jadi kesimpulannya film ini tetap layak ditonton walau untuk anak anak harus dengan pendampingan penuh karena khawatir apa-apa yang ada di dalam film tersebut dianggap benar semua dan bisa ditiru dalam kehidupan sehari-hari. Selamat menyaksikan film 2 jempol ini semoga dapat mengambil hikmah yang besar di dalamnya.
Langganan:
Komentar (Atom)