Jangan pernah meremehkan sebuah ucapan.
Tulisan ini dibuat dalam rangka mengenang kejadian 7 tahun lalu, tepat di Bulan Oktober tanggal 6 tahun 2009
Jadi ceritanya saat itu saya sedang mengandung anak keempat dalam 10 tahun penikahan. Sengaja memang tidak menggunakan metode KB apapun sejak awal menikah, mumpung umur belum masuk resiko tinggi. Jadi berapapun anak yang didapat sampai usia 35 ya kami terima saja. Target melahirkan berdasarkan usia, bukan jumlah anak.
Nah pas anak keempat ini kebetulan usia saya 34 tahun. Jadi soal umur masih terpenuhi, sehingga si debay digadang-gadang akan menjadi bayi terakhir dalam pernikahan ini. Karena ada niatan seperti itu persiapan maksimal dilakukan sejak jauh-jauh hari. Sebetulnya semua sama sih, tapi persiapan batin dan mental saya yang dilebihkan. Dari kehamilan anak kedua, sejak dinyatakan positif, kecemasan luar biasa selalu melanda. Selama berbulan-bulan saya membayangkan tentang proses melahirkan yang menyeramkan seperti kelahiran pertama, perasaan itu akan semakin bertambah seiring waktu berjalan dan proses melahirkan semakin dekat. Kelahiran anak kedua masih aman, dia lahir normal dan tidak ada penyulit apapun. Anak ketiga mulai bermasalah. Si debay tidak mau keluar pada waktunya. Jadilah setelah segala macam cara diusakahan, meja operasinya solusinya.
Selain itu persiapan perlengkapan baby juga tak kalah serunya. Kebiasaan saya tiap lahiran selalu membeli perlengkapan yang baru, kecuali tempat tidur dan tempat mandi bayi yang masih awet tersimpan. Bukan tanpa sebab saya selalu membeli pakaian baby yang baru walau sudah anak pertama. Ini sebagai bentuk penghargaan kepada anak yang baru lahir, bahwa dia pun begitu sangat diharapkan kehadirannya. Dan memang perlengkapan lama selalu habis saya bagi-bagi, alhamdulillaah selalu ada yang datang meminta perlengkapan-perlengkapan bayi yang sudah tak terpakai.
Di kehamilan keempat ini segala informasi melahirkan normal pasca sc saya kumpulkan. Ada beberapa teman yang berhasil tapi tidak untuk kasus saya. Si bayi terlalu besar sehingga akan merobek jahitan yang 3 tahun lalu dibuat untuk jalan lahir abangnya. Maka masuk kembali ke ruangan operasi tak bisa terhindarkan.
Karena sejak awal saya sudah beberapa kali mengganti dokter, maka di tiga bulan terakhir harus serius mencari dokter yang pas. Dokter langganan yang sudah bergelar profesor dan memabantu persalinan sebelumnya sudah dicoret dari daftar, ngeri sendiri melihat antrian pasiennya. "bagaimana nanti kalau mau lahiran ada yang bareng, pasti si prof sudah kecapean", begitu pikir saya.
Setelah mencari informasi dari berbagai sumber dan mencoba beberapa kali konsultasi saya langsung klik dengan seorang dokter muda yang pembawaannya sangat menyenangkan dan terlihat pintar waktu menjawab pertanyaan. Itu juga di iyakan oleh suami. Baru kali ini sebelum proses lahiran suami dicari oleh dokter, mengajak bersalaman dan memohon doa agar prosesnya berjalan lancar, dan sesudahnya kembali menghampiri untuk mengucapkan selamat dan mengabarkan proses operasi berjalan lancar. Sangat simpatik.
"Beda banget sama si bapak tua Profesor itu yang datang dari pintu mana juga tidak ketahuan, jadwal visit di kamar selama perawatan juga selalu digantikan dokter lain", demikian suami menyatakan kepuasannya atas servise dokter saya yang terakhir ini.
Semua berjalan lancar sesuai rencana. Kecuali satu, ini anak keempat, berarti sudah tidak ada lagi tanggungan biaya periksa kehamilan dan melahirkan dari perusahaan tempat suami bekerja. Sesuai peraturan, hanya 3 anak yang ditanggung. setelah melalaui berbagai pertimbangan saya memilih melahirkan di tempat praktek dokter yang dimaksud di sebuah rumah sakit bersalin di kawasan Menteng. Fasilitas dan servisenya diterima memang beda dengan di Rumah Sakit swasta yang menjadi langganan dekat rumah.
"Semoga si rejekinya juga rejeki anak Menteng", berseloroh saya menghibur suami yang sempat ternganga melihat tagihannya.
Rejeki anak Menteng. Benarkah demikian ?
Ya, dua tahun kemudian kata-kata saya terjawab. 20 hari sebelum dia berulang tahun yang kedua, atau kalau di bulan hijriyah pas hari itu ulang tahunnya di tanggal 17 Syawal dia dijemput kembali untuk segera menikmati rejekinya sendiri melebihi harapan saya yang hanya memilih Menteng sebagai lambang kemewahan. Surga lebih pantas untuknya.
Maka benarlah, jangan pernah mengabaikan kekuatan kata-kata walaupun itu diucapkan sambil lalu saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar