Sewaktu ditanya pengalaman apa yang paling diingat semasa kecil, maka ini salah satu yang masih lekat dalam ingatan.
Saat itu kami masih SD kelas rendah, tepatnya kelas 2. Tiba-tiba seisi kelas dibuat heboh dengan beredarnya kabar ada liliput di halaman sekolah. Serentak semua berlari ke halaman, dan ternyata sudah didului oleh kelas lain. Halaman sekolah kami itu sangat luas untuk ukuran Sekolah Dasar, sehingga tidak khawatir kalaupun seisi sekolah turun kesana untuk menangkap si liliput tidak akan kehabisan lahan untuk ditelusuri.
Semua mencari dengan harapan membuncah sambil menyibak setiap ilalang karena liliputnya bersembunyi diantara rerumputan, begitu menurut berita yang kami dengar. Kami berencnaa akan memelihara itu liliput dan dibawa tiap ke sekolah.
"Ukurannya kecil sebesar jari, jadi bisa di taruh di telapak tangan. Bentuknya persis seperti manusia biasa, semuanya sama". Tidak ada yang tahu dari mana awal bermula deskripsi lengkap tersebut. Ini adalah tantangan untuk membuktikan keberadaan seorang liliput hanya dengan berbekal "katanya". Kesibukan yang sempat berjalan berhari-hari di saat istirahat dan pulang sekolah.
Tapi jangan ditanya bahagianya saat itu. Harapan yang sungguh bikin nikmat. Kenikmatan yang akhirnya harus pudar seiring waktu ketika kami semakin besar dan menyadari bahwa liliput atau kurcaci hanya ada di dalam dongeng pengantar tidur.
Kini semakin dewasa fenomena seperti liliput semakin sering kita lihat, ada yang lebih bahagia hidup dalam harapan kosong ketimbang menerima kenyataan. Tak usahlah kita mengulang seperti kejadian di atas, bekerja keras mencari sesuatu yang semu. Hanya dengan belajar dan membaca dari sumber yang benarlah maka kita akan tahu mana yang semu atau nyata.
Jumat, 23 September 2016
"Teman"
Katanya kita ini teman
Oh, salah ya. Baklah akan kuralat. Kataku kita ini teman. Mungkin begitu bisa menjelaskan mengapa tak kau biarkan aku untuk bisa menjamah kabar tentangmu.
Saat memori melayang kembali padamu ingin rasanya kuambil penghapus dan kusapu perlahan agar tak terlihat lagi namamu disana, hanya agar kau merasa tenang tanpa perlu menutup rapat pintu dan daun jendelamu untukku singgah barang sebentar.
Tapi ternyata penghapusanku tak cukup kuat untuk untuk menghilangkan sebuah baris pada satu halamaan diantara ribuan halaman jalan hidupku, bahwa kita pernah bersama sebagai teman. Dan pastinya namaku tertera di halaman bukumu juga tanpa kuasa kau menghapusnya sebesar apapun usahamu. Bukankah begitu.
Untukmu temanku, bukalah jemarimu untuk kita saling bertautan. Rentangkan kembali tanganmu untukku dan katakan "I still be your fiend"
Oh, salah ya. Baklah akan kuralat. Kataku kita ini teman. Mungkin begitu bisa menjelaskan mengapa tak kau biarkan aku untuk bisa menjamah kabar tentangmu.
Saat memori melayang kembali padamu ingin rasanya kuambil penghapus dan kusapu perlahan agar tak terlihat lagi namamu disana, hanya agar kau merasa tenang tanpa perlu menutup rapat pintu dan daun jendelamu untukku singgah barang sebentar.
Tapi ternyata penghapusanku tak cukup kuat untuk untuk menghilangkan sebuah baris pada satu halamaan diantara ribuan halaman jalan hidupku, bahwa kita pernah bersama sebagai teman. Dan pastinya namaku tertera di halaman bukumu juga tanpa kuasa kau menghapusnya sebesar apapun usahamu. Bukankah begitu.
Untukmu temanku, bukalah jemarimu untuk kita saling bertautan. Rentangkan kembali tanganmu untukku dan katakan "I still be your fiend"
Kamis, 15 September 2016
16 September in Memori
Jumat 16 September 5 tahun lalu.
Sama seperti di Jumat pagi hari ini, mengawali hari dengan ceria penuh doa dan harapan. Berbagai rencana untuk seharian itu telah disusun sebagai pertanggungjawaban seorang hamba pada Sang Khaliq, sebagai istri pada suaminya, sebagai anak bagi kedua ibu bapaknya, dan sebagai ibu dari 4 orang anaknya.
Namun apa daya, dunia benar-benar fana. Baru separuh rencana itu berjalan, takdir yang telah lebih dahulu tersusun harus terjadi saat itu juga. Tiada sedetikpun Izroil melalaikan tugasnya. bahkan hanya sekedar memberi kesempatan kepada ibu, ayah, tiga orang kakak dan kakek nenek untuk mengucapkan selamat berpisah.
Hari itu sang takdir telah membuktikan bahwa dialah pemenangnya. Sehebat apapun hubungan rahman dan rahim dua insan bergelar ibu dan anak tak mampu untuk menandingi kehebatannya.
Jumat pagi 16 September 2011 adalah pagi terakhir si ibu menyiapkan sarapan untuk 4 orang buah hati. Itu juga adalah pagi terakhir dia dengan bangga meyebut statusnya sebagai ibu dari 4 orang anak tanpa embel-embel "yang tersisa 3, satunya sudah diambil yang punya".
Jumat 16 September 2016
Adalah bodoh bila 5 tahun kehilangan tidak menjadikan moment yang terlalu mahal tersebut sebagai alasan untuk merayu Sang Pemilik supaya memberikan kembali apa yang sudah pernah diterima untuk disimpan kelak sebagi hadiah terindah di tempat terindah pada waktunya nanti.
Sambil termenung di sudut kamar menikmati setiap belaian cinta dari Pemberi Kehidupan.
Salam
Sama seperti di Jumat pagi hari ini, mengawali hari dengan ceria penuh doa dan harapan. Berbagai rencana untuk seharian itu telah disusun sebagai pertanggungjawaban seorang hamba pada Sang Khaliq, sebagai istri pada suaminya, sebagai anak bagi kedua ibu bapaknya, dan sebagai ibu dari 4 orang anaknya.
Namun apa daya, dunia benar-benar fana. Baru separuh rencana itu berjalan, takdir yang telah lebih dahulu tersusun harus terjadi saat itu juga. Tiada sedetikpun Izroil melalaikan tugasnya. bahkan hanya sekedar memberi kesempatan kepada ibu, ayah, tiga orang kakak dan kakek nenek untuk mengucapkan selamat berpisah.
Hari itu sang takdir telah membuktikan bahwa dialah pemenangnya. Sehebat apapun hubungan rahman dan rahim dua insan bergelar ibu dan anak tak mampu untuk menandingi kehebatannya.
Jumat pagi 16 September 2011 adalah pagi terakhir si ibu menyiapkan sarapan untuk 4 orang buah hati. Itu juga adalah pagi terakhir dia dengan bangga meyebut statusnya sebagai ibu dari 4 orang anak tanpa embel-embel "yang tersisa 3, satunya sudah diambil yang punya".
Jumat 16 September 2016
Adalah bodoh bila 5 tahun kehilangan tidak menjadikan moment yang terlalu mahal tersebut sebagai alasan untuk merayu Sang Pemilik supaya memberikan kembali apa yang sudah pernah diterima untuk disimpan kelak sebagi hadiah terindah di tempat terindah pada waktunya nanti.
Sambil termenung di sudut kamar menikmati setiap belaian cinta dari Pemberi Kehidupan.
Salam
Langganan:
Komentar (Atom)