Jumat, 23 September 2016

Liliput

Sewaktu ditanya pengalaman apa yang paling diingat semasa kecil, maka ini salah satu yang masih lekat dalam ingatan.

Saat itu kami masih SD kelas rendah, tepatnya kelas 2. Tiba-tiba seisi kelas dibuat heboh dengan beredarnya kabar ada liliput di halaman sekolah. Serentak semua berlari ke halaman, dan ternyata sudah didului oleh kelas lain. Halaman sekolah kami itu sangat luas untuk ukuran Sekolah Dasar, sehingga tidak khawatir kalaupun seisi sekolah turun kesana untuk menangkap si liliput tidak akan kehabisan lahan untuk ditelusuri.

Semua mencari dengan harapan membuncah sambil menyibak setiap ilalang karena liliputnya bersembunyi diantara rerumputan, begitu menurut berita yang kami dengar. Kami berencnaa akan memelihara itu liliput dan dibawa tiap ke sekolah.

"Ukurannya kecil sebesar jari, jadi bisa di taruh di telapak tangan. Bentuknya persis seperti manusia biasa, semuanya sama". Tidak ada yang tahu dari mana awal bermula deskripsi lengkap tersebut. Ini adalah tantangan untuk membuktikan keberadaan seorang liliput hanya dengan berbekal "katanya". Kesibukan yang sempat berjalan berhari-hari di saat istirahat dan pulang sekolah.

Tapi jangan ditanya bahagianya saat itu. Harapan yang sungguh bikin nikmat. Kenikmatan yang akhirnya harus pudar seiring waktu ketika kami semakin besar dan menyadari bahwa liliput atau kurcaci hanya ada di dalam dongeng pengantar tidur.

Kini semakin dewasa fenomena seperti liliput semakin sering kita lihat, ada yang lebih bahagia hidup dalam harapan kosong ketimbang menerima kenyataan. Tak usahlah kita mengulang seperti kejadian di atas, bekerja keras mencari sesuatu yang semu. Hanya dengan belajar dan membaca dari sumber yang benarlah maka kita akan tahu mana yang semu atau nyata.

2 komentar:

  1. Balasan
    1. Jadi sampe sekolahan itu dibongkar total ngga ada itu abang2 bangunan nemu liliput. Indahnya dunia anak2 ... polos bener

      Hapus