Selasa, 04 Oktober 2016

Kemanakah Perginya Nurani

"Musibah ini ujian atau azab"

"Pantas saja disana diturunkan musibah besar begitu, pasti berkaitan dengan perilaku penduduknya"

"Pasti ini gara-gara maksiat yang sudah terlalu banyak dilakukan warga setempat, kini mereka menerima akibatnya"

Demikian komentar-komentar yang berseliweran di sekeliling kita ketika terjadi suatu musibah besar yang menimpa sebuah daerah. Ada satu yang menulis lalu dibagikan beramai-ramai hingga menjadi viral. Seperti yang baru saja terjadi di Garut Jawa Barat, atau bertahun lampau masih segar dalam ingatan tentang musibah tsunami di Aceh. Atas takdir Allah bencana tersebut memakan korban jiwa yang tidak sedikit. Harta benda tak bisa lagi terkata.

Ketika Air mata belum lagi terhapus dari wajah-wajah keluarga korban. Saat Tim Relawan masih berjibaku dengan lumpur menyelamatkan yang masih tersisa, dan bala bantuan masih berusaha menembus titik bencana. Ada sebagian dari kita di kamar yang nyaman atau duduk di sebuah cafe sambil bercanda ria bersama teman-teman, dengan jari-jari halusnya mengklik komentar dari penulis idola mereka atau bahkan dari orang yang mereka sendiri tidak pernah kenal bagaimana kiprah si penulis sesungguhnya yang begitu mudahnya menunjuk hidung korban bencana sebagai pelaku maksiat hingga pantas menerima hukuman dari Tuhan dengan sebegitu dahsyatnya.

Ah, andaikan mereka adalah keluarga si korban. Atau tak usahlah sejauh itu, andaikan mereka membayangkan diri dalam posisi korban. Masihkah akan tega melakukan hal demikian. Kemana hati nurani, mana belas kasihan.

Bahwa kebenaran itu harus dikatakan walau sepahit apapun, itu benar adanya. Tapi tak bisakah menunggu waktu yang tepat untuk berdakwah tanpa menyakiti hati sebagian saudara kita. Muhasabah memang perlu, tapi tak perlu menuding dengan begitu sadisnya. Rasanya mereka lebih membutuhkan bantuan nyata yang dilakukan dengan hati yang bersih.

"itu kan maksudnya buat kita sendiri dan lain agar tidak terulang" begitu alasanmu teman. Tapi benarkah ? Sekarang cobalah tengok ke dalam diri kita sendiri, jangan-jangan maksiat yang kita lakukan lebih besar daripada yang kita sangkakan pada mereka.

astaghfirullah hal adziim. Laa ilaaha illa anta subhanaaka inni kuntum minadzdzoolimiin.

#OneDayOnePost
#harike2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar