Rabu, 23 Januari 2013

Oh Ibu Sholeha Part-2

Baca sebelumnya  Oh Ibu Sholeha Part-1

"Begitulah hari demi hari saya lalui dengan perasaan bahagia sebab cinta kami yang bisa mengatasi perbedaan. Kalaupun sedikit ada ganjalan, itu saya pastikan bukan dari dalam rumah saya, tapi mereka saja yang merasa ada masalah. yang penting saya sudah berusaha dengan maksimal sesuai dengan kemampuan saya untuk selalu berbuat baiki kepada mereka, bahkan memberikan apapun yang mereka inginkan selalu kami sanggup".
"Tetapi bukan kehidupan namanya kalau tidak dilalui dengan ujian dan cobaan, termasuk kehidupan berumah tangga. Ketika saya merasa sedang berada di puncak kebahagiaan dalam rumah tangga, cobaan itu akhirnya menghampiri saya juga".
"Suami yang awalnya selalu bersikap manis di rumah tiba-tiba saja berubah, jadi sering marah dan sering sekali keluar rumah. Perubahan ini saya amati terus, anehnya saya merasa wajar saja, mungkin ini yang namanya mendapat ujian harta. Rupanya suami saya kurang siap menerima limpahan rezeki yang dengan mudah mengalir melalui usahanya".
"Hari demi hari kelakuannya semakin menjadi-jadi, mulai berani membentak saya, pulang tengah malam dengan mulut bau alkohol, bahkan kadang tidak pulang. Yang paling "hebat" dia sudah berani meninggalkan sholat. Saya bukannya tidak ada usaha juga untuk merubah keadaan ini. Sesekali saya nasehati dia pelan-pelan. Tapi bukannya kembali menjadi baik malah saya yang dimarahi disuruh diam saja. Rupanya sudah tidak bisa dia dinasehati pakai kata-kata, ujungnya malah membuat kami ribut sampai didengar anak-anak. Dan saya tidak mau itu terulang lagi, makanya saya memilih diam".
"Akhirnya saya terima saja perlakuannya itu, hanya berdoa yang bisa saya lakukan karena hanya Allah yang kuasa untuk membolak balik hati manusia. Walau dengan sangat terpaksa dan hati pedih, saya masih seperti biasa melayaninya dengan baik dan penuh pengabdian. Sebetulnya saya menangis tiap kali membukakan pintu untuknya, tapi tangis itu saya simpan karena khawatir itu malah akan memancing emosinya saja. Saya siapkan air hangat untuknya mandi, menyiapkan makanan kesukaannya. Saya ajak ke kamar dan saya selimuti dia sampai dia tertidur pulas".
"Rupanya kesabaran saya benar-benar sedang diuji. Ketika tertidur, dia mengigau menyebut nama seorang perempuan.Tentunya sangat panas hati ini. Kalau selama ini saya bisa bersabar atas semua kelakuan buruknya tapi tidak untuk urusan perempuan. Bergemuruh luar biasa hati ini dimakan rasa cemburu. Ketika ditanya dia tidak mengaku dan seperti biasa, marah-marah. Rupanya sudah sebegini parahnya akibat pengaruh harta dan buruknya pergaulan". 
"Didorong rasa penasaran saya mencari informasi tentang kecurigaan saya itu. Bak petir di siang bolong, ingin pingsan rasanya mendengar berita bahwa ternyata dia baru saja menikah lagi. Saya sangat marah dan tidak bisa menerima keadaan ini. Tapi juga bingung bagimana menghadapi ini semua. Ingin mengadu kepada orang tua, jelas tidak berani karena dari awal mereka kurang sreg dengan pilihan saya. Pasti akan menyakiti hati kedua orang tua kalau mereka mendengar ini semua. Jadinya saya tutupi saja di hadapan seluruh keluarga besar saya".
"Tak ada jalan lain, saya mencoba menghubungi keluarga suami untuk sekedar memberi nasehat kepada suami saya. Tapi jangankan memenuhi harapan saya, bersimpati pun tidak,  bahkan saya yang dipersalahkan tidak bisa menjaga suami. Ya sudah, saya pulang dengan perasaan hancur berkeping-keping. Untuk menghibur hati, saya mencoba menghubungi seorang doktor, biasa memberikan konsultasi perkawinan di televisi, tarifnya lumayan. Tapi tetap tidak menjawab keresahan di hati saya. Semua yng disampaikannya adalah teori-teori yang sudah saya hafal, bukan itu yang saya cari".
"Akhirnya dengan kepasrahan yang luar biasa, saya hadapi itu semua sendirian. Menangis di kamar, tapi tidak di depan suami karena saya tidak mau terlihat sangat lemah tak berdaya. Semua kebutuhannya saya layani seperti biasa, tanpa pernah sedikitpun menyinggung 'dosa-dosa'nya kepada saya dan anak-anak. Itu semua saya lakukan hanya karena merasa sangat tidak berdaya. Di pikiran saya yang sederhana ini, hanya ada satu tujuan, yaitu menyelamatkan rumah tangga kami demi masa depan anak-anak, tidak lebih. Dan itu hanya bisa terjadi kalau dia merasa nyaman disini, di rumah kami bersama saya dan anak-anak. Tidak perlu  bawa-bawa masalahnya di luar ke dalam rumah kami ini. Toh dia juga tidak pernah bicara apa-apa pada saya. Semua saya buat seolah-tidak ada apa-apa."
Rupanya suami trenyuh melihat kesabaran saya, hingga pada suatu hari dia berkata : "Sholeha, maafkan aku selama ini sudah terlalu banyak dosaku padamu, tapi sungguh kau tidak pernah berubah, kau baik sekali, aku merasa seperti seorang anak kecil yang nakal dan kau seperti seorang ibu yang sangat mengerti keadaanku. Aku memang terlibat dengan seorang perempuan dan sudah menikah dengannya, sekarang dia sedang hamil. Maafkan aku Sholeha, kalau ku mau marah, marahlah tapi aku tak meninggalkannya dalam keadaan seperti itu, tapi percayalah aku masih sangat mencintaimu".
"Ya Allah, apalagi ini. Walaupun saya sudah menyiapkan diri mendengar ini semua tetap saja seperti tersengat setrum tegangan tinggi. Tak ada jawaban baginya dan memang tak perlu dijawab. Soal kata-kata cintanya?....seratus persen saya tidak percaya. Tapi nasi sudah menjadi bubur, tekad saya sudah bulat untuk bertahan demi anak-anak, Allah pasti akan memberi jalan kepada saya.
Setelah hari itu semua berjalan normal seperti biasa, dengan catatan, saya resmi mempunyai madu, duh....sangat pahit diucapkan dan didengar. 
Akan halnya dengan keyakinan saya, janji Allah itu pasti asal kita bersabar dan sholat, tiba-tiba suami mengabarkan bahwa dia sudah menceraikan istri barunya karena merasa tidak ada keadamaian ketika berada disana, sedangkan ketika bersama saya, dia mendapatkan segalanya tanpa syarat. Bersyukur dalam hati ?.......sudah pasti. Tapi rupanya belum selesai juga ujian dari Allah lewat suami. Dia meminta saya mengurus anaknya yang masih bayi".
Singkat cerita, selama setahun saya mengurus bayi anak suami saya dengan perempuan lain. Dihadapan  tetangga dan saudara-saudara kami mengakuinya sebagai anak angkat. Ini demi menjaga nama baik suami. Setelah setahun anak itu kemudian diminta kembali oleh ibunya, padahal saya sudah mulai jatuh hati kepada anak itu. Tapi kami berikan dengan ikhlas karena memang dia lebih berhak.
Berita baiknya, dampak dari itu semua suami tampak jadi salah tingkah kepada saya. Dia jauh menjadi lebih daripada yang dulu saya kenal. Sikap mesranya juga idak dibuat-buat. Misalnya saja ketika saya mau ke pasar dia memaksa untuk mengantar, kalau habis hujan dia keluar dulu mencarikan jalan yang tidak ada genangan airnya untuk saya.
Itulah Erni, kisah kehidupan rumah tangga saya. Walau berat dan kadang masih membekas tapi tetap saya bersyukur Allah telah memberi pelajaran berharga kepada suami untuk lebih menghormati saya sebagai istrinya. Begitu juga dengan saudara-saudara suami, mereka jadi lebih baik kepada saya. Apalagi mertua, selalu membanggakan saya di depan anak-anaknya yang lain. Ini saya dengar sendiri dari saudar-saudara suami."

Untuk Ibu Sholeha, terima kasih telah mau berbagi. Entahlah kalau saya mengalami nasib yang sama (amit-amiiit...jangan sampe). Belum tentu sanggup seperti beliau. Tapi Allah memang Maha Adil, memberikan cobaan hanya kepada yang sanggup menerimanya.

Salam.



 




Oh Ibu Sholeha. Part-1

Sebut saja namanya Ibu Sholeha. Seorang perempuan sederhana beranak empat tapi sangat luar biasa. Sekarang usianya sudah menjelang 60. Saya mengenalnya kira-kira 11 tahun yang lalu, ketika saya masih sangat belia untuk masalah rumah tangga dan segala pernak-perniknya. Sempat juga kami bergaul akrab. Hanya karena kesibukan, waktu yang jaraklah yang sekarang "memutus" komunikasi diantara kami.

Kalau kata saya Ibu Sholeha ini termasuk "penipu ulung". Bayangkan, siapapun yang baru bertemu dengannya pasti mengira usianya baru memasuki 40. Wajah segar dan berseri-seri serta selalu menyunggingkan senyum membuat orang betah berhadapan dengannya. Padahal -catat ini- dia tidak pernah sama sekali menggunakan kosmetika modern seperti perempuan kebanyakan. Tapi sama sekali tidak tampak kerutan apalagi penuaan dini. Soal kesegaran wajahnya ini saya sempat menyangka, tentu saja karena dia selalu happy apa saja terpenuhi sehingga tidak perlu keningnya berkerut memikirkan kebutuhan apalagi masalah, pasti jauh-jauh dari orang berwajah segar seperti beliau.

Ternyata dugaan saya sama sekali salah, dengan sangat terbuka dan diiringi dengan nasehat (ini juga ciri khasnya, nasehat) beliau memulai kisahnya :

"Erni, apapun yang saya ceritakan ini bukan karena saya pintar apalagi sombong, tapi tidak lain agar dirimu bisa mengambil hikmah yang banyak dari pengalaman pribadi saya. Semoga tidak terulang, kalaupun terjadi ambil langkah yang tepat, jangan turuti perasaan dan emosi".
Saya dan suami menikah bukan karena dijodohkan, tapi murni karena cinta, memang awalnya ada sedikit masalah dengan keluarga karena perbedaan suku. Suami yang dari Sumatera Barat rupanya diharapkan menikah dengan orang dari sana juga. Saya yang asli Betawi juga diharapkan mendapatkan jodoh jangan yang jauh-jauh, suku apa saja asal masih satu pulau (takut repot diajak pulang kampung kali ya....hehehe canda saya dalam hati -erni).
Seperti kebanyakan orang dari sana, suami saya adalah seorang pengusaha. Terbilang sukses bagi ukuran saya. Tentu ini juga menjadi kebanggaan bagi orang tua dan saudara-saudaranya yng sangat banyak. Sehingga ketika mereka berkumpul saya merasa agak tersisihkan. Mereka memang sering sekali berkumpul.  Tetapi saya jarang dilibatkan dalam pembicaraan apalagi pengambilan keputusan bahkan untuk hal-hal yang berhubungan dengan suami saya. Ini sangat dimaklumi karena saya sadar posisi, mungkin dianggap sebagai istri yang tidak diharapkan keharapkannya oleh mereka juga kontribusi saya yang dianggap tidak ada untuk pemasukan keuangn keluarga, semua murni dari hasil jerih payah suami saya".
"Tapi sungguh itu semua tidak masalah buat saya, sikap apapun yang mereka tunjukkan tidak sedikitpun mengurangi bakti saya kepada ibu mertua. Sehingga ini yang membuat suami makin cinta dan selalu membela saya di hadapan saudara-saudaranya". 
"Anehnya walaupun seperti itu sikap mereka tetap saja ketika datang ke Jakarta pasti yang pertama kali ingin ditemui oleh beliau adalah saya, bukan anak-anaknya atau menantu-menantunya yang lain. Bahkan ibu mertua lebih memilih tinggal bersama saya ketika di Jakarta, padahal rumah anak-anaknya yang lain jauh lebih bagus dari rumah saya, mungkin ini juga salah satu penyebab kecemburuan mereka kepada saya".

Selanjutnya baca Oh Ibu Soleha Part-2
 

Selasa, 22 Januari 2013

GPS

Gagasan tentang penanaman GPS di tubuh anak-anak terus saja bergelayut di pikiran saya pasca "menghilang"nya keponakan tempo hari. Entah bagaimana mewujudkannya. Yang pasti, bukan urusan saya kalau bicara masalah teknisnya. Lagipula kalaupun para ahli sudah membuatnya mungkin akan menimbulkan  perdebatan sebelum dipublikasikan dan akhirnya dipasarkan.

Bayangan saya, kalau sudah ada tentunya akan saya pasang pertama, pada si Raihan anak "unik" keponakan saya sendiri. Juga pada semua anak-anak saya sendiri dan keponakan-keponakan untuk memastikan ketenangan batin kami para orang tua tentang keberadaan anak-anak (termasuk parno ngga tuh?). Lalu akan saya hadiahkan satu pada seorang kawan. Untuk apa? 

Naah ini yang menarik, beberapa hari yang lalu saya mendengar kabar tentang teman yang satu ini bahwa dia sedang menunggui suaminya yang sedang BEKERJA!!! Memang rumah tangganya sedang sedikit ada masalah. Jadi begitulah dengan sangat terpaksa dia mengikuti suaminya bekerja demi ketenangan batinnya (dia sendiri yang mengakuinya), resikonya meninggalkan anak-anak di rumah. Sungguh perbuatan yang tidak akan saya lakukan karena saya tidak ingin terlihat bodoh dengan menunggui suami bekerja, kalaupun ada indikasi berselingkuh itu hanya akan memberi angin kepada rival kita (sebagai istri, dalam hal ini sebetulnya korban). Mempermalukan diri sendiri di hadapan rival, suami, bos dan teman-teman kerja suami. Bukannya tidak ada usaha untuk mempertahan suami...ups salah, rumah tangga. Tapi rasanya akan lebih baik kalau memilih cara yang lebih elegan dan cerdas. Tapi sudahlah itu urusan masing-masing, selain menasehati langsung, saya hanya bisa mendoakan semoga masalahnya cepat selesai. 

Kembali ke soal GPS, di awal sudah saya katakan, sebelum dipasarkan kemungkinan akan menimbulkan perdebatan. Dari mana? Tentu ada kaitan dengan kisah singkat tentang teman saya tadi. GPS ini akan disambut dengan gegap gempita oleh para istri yang merasa suaminya bermasalah. Sebaliknya para suami akan menolak habis2an karena pasti akan merasa diikuti CCTV setiap saat. Hihihi.....saya koq jadi tertawa sendiri membayangkan itu semua, khayalan saya sendiri.

Sedangkan dengan suami saya sendiri bagaimana ?
Karena kami sudah berprinsip rumah tangga ini dibangun atas dasar kepercayaan, jadi untuk apa alat-alat yang hanya  menyiksa kedua belah pihak. Semua ketenangan dan kegalauan asalnya adalah dari hati kita sendiri 

Raihan, Sehari Jadi Bolang

Masih tentang Raihan, keponakan saya,  baru berumur 8 tahun yang kemarin sempat menghebohkan. Setelah seharian penuh tim pencari berjuang "menangkap" anak itu, akhirnya membuahkan hasil pada malam harinya. Sedang berjalan sendirian di luar stasiun pondok kopi. Setelah dibawa pulang, dimandikan dan diberi makan, dengan santainya dia masuk ke kamar tanpa mempedulikan interogasi dari semua yang penasaran.
 
Sang ibu -adik saya- yang paham betul tentang perilaku anaknya tidak ikut2an menanyakan apapun. Tetapi ikutan masuk ke kamar, diajak santai sambil bercanda, barulah keluar cerita dari si bocah "unik ini". Oiya, dia tidak peduli kepada orang-orang karena dia sendiri merasa tidak hilang, begini ceritanya:

 "Mah, aku kan pengen tau soal kereta sama stasiun-stasiun, ya udah aku pergi aja ke stasiun pondok kopi. Itu masih sore mah (jarak rumahnya dan stasiun kira-kira 1 km, hanya bayar Rp 2000 kalau naik angkot, anak-anak seribu saja). Tapi petugasnya galak, yang tidak punya karcis gak boleh masuk. Ya udah aku diem aja di pinggir stasiun, ngeliatin kereta lewat dari jauh. Sampe malem, pas petugasnya lagi masuk sebentar ke dalam loket aku buru-buru lari masuk, terus aku ikut naik kereta komuter".

"Aku naik kereta jurusan manggarai, tapi di stasiun jatinegara turun dulu ganti kereta. Di stasiun aku melihat jalur 5 jurusan kemayoran. Padahal aku juga pengen tau stasiun kemayoran, tapi nanti aja, aku ke manggarai dulu baru nanti aku naik lagi yang jurusan kemayoran. Dari Manggarai aku ikut balik lagi ke jatinegara, tapi aku ngantuk banget sampe ketiduran, pas bangun tau-taunya aku sudah sampe stasiun Kranji". (saat itu dia tidak tahu jam berapa, karena memang tidak dibekali jam atau hp, rupanya dia mengira saat itu belum terlalu malam)
.
"Terusnya aku turun mah, tadinya mau nyambung lagi naik kereta kemayoran. Eh tau-taunya keretanya udah habis. Terus aku diajak bapak satpam tidur di mesjid sampe pagi. Besok paginya aku bangun  langsung nyari kereta jurusan kemayoran.Distasiun Jatinegara aku menghapal jalur-jalur mah, pokoknya jangan naik yang jalur (berapa yaaa....saya lupa, pokoknya dia menyebut salah satu nomor jalur). Kalau itu khusus buat jurusan yang ke Jawa".

"Ya gitu deh, aku bolak balik kemayoran-bekasi, terus aku turun di stasiun Klender Baru (satu stasiun sebelum pondok kopi, jadi masih daerah tempat tinggal kami juga). Aku naik angkot 03 ke stasiun pondok kopi lagi, eh baru mau turun dari angkot keburu ketemu pakde, terus aku disuruh pulang, padahal aku lagi pengen ke stasiun Cikini mah, enak di Cikini, stasiun lain ngg ada yang kayak gitu. Paling bawah ada Indomaret, lantai 2 tempat jualan karcis, lantai tiga jalur kereta. Hebat ya mah, kereta ada di paling atas.
Pokoknya papah harus ngajak aku lagi jalan-jalan naik kereta sampai stasiun cikini"

Mamahnya : "kamu ngga takut nak ketemu anak-anak nakal dikereta?"
Raihan : " Ngga ada mah, kalau anak-anak begitu adanya di kereta ekonomi, aku sih ngga mau naik kereta    ekonomi, banyak anak-anak bau tukang minta-minta, mana gerah ngga ada AC".
Mamah : "kamu sendirian aja? ngga ada bapak-bapak atau ibu-ibu yang nanya kamu di adalam kereta?"
Raihan : "iya aku sendirian aja, ngga ada yang nanya tuh".
Mamah : "terus makannya kamu minta-minta ya ?"
Raihan (sambil marah) : " Ngga mah, kan aku diajarin seumur ngga boleh minta-minta. Amit-amit deh, kata mamah kan aku harus selalu jadi orang yang memberi, aku ada uang sedikit, aku beliin cakue, sama sebotol aqua, terus ada bapak-bapak ngasih roti, itu aku dikasih, ngga minta looh"

Hehehe...gemes juga rasanya, padahal belum lama baru saja diajak ayahnya naik kereta (bolak-balik juga ke bogor dari pagi sampai sore, hanya untuk memuaskan rasa ingin tahunya )
Sekarang dengan bangga dia "memamerkan" hasil petualangannya berupa penelitian tentang jalu-jalur kerata, sambil berulang-ulang mempraktekkan membacakan pengumuma-pengumuman yang ada di satasiun-stasiun, dia juga sudah hafal nama-nama kereta beserta jurusannya.
Saya dan adik bungsu memang tinggal tidak berjauhan, jadi kami sering berbagi cerita tentang perkembanagan anak-anak kami di sela-sela waktu sepulang ngantor

Cerita tentang tentang Raihan masih banyak lagi yang menarik, mungkin bisa dibukukan, nanti suatu saat saya share lagi disini


 

Senin, 21 Januari 2013

Semua sayang Raihan

Hari yang sangat melelahkan. Ini bukan sebuah ungkapan ketidakpuasan atas apapun apalagi keluhan. Tapi betul2  capek di badan dan mata dan pikiran karena sebuah peristiwa yang sangat ngeri untuk membayangkannya (untung saja itu sudah berlalu).

Adik saya yang bungsu hampir saja mengalami musibah kehilangan anak laki-lakinya yang baru berumur 8 tahun. Tapi -sekali lagi- untung saja itu sudah berlalu. Sungguh 24 jam yang sangat menegangkan dan melelahkan mencari seorang anak kecil ditengah keramaian dan hiruk pikuk  kota sebesar Jakarta ini,  bagaikan mencari sebuah jarum di tumpukan jerami.

Entah kenapa saya sangat enggan untuk menceritakan kronologis kejadiannya (seperti biasa, saya paling  "ogah" kalau harus menceritakan pengalaman buruk yang menimpa siapapun). Jadi singkat cerita, setelah menghilang selama 24 jam, akhirnya keponakan saya ditemukan dalam keadaan sehat wal 'afiat. Walau tetap akan dibawa untuk pemeriksaan ke rumah sakit hanya sekedar untuk memastikan bahwa dia memang baik-baik saja tidak kurang suatu apapun. 

Yang menjadi titik perhatian saya atas kejadian ini adalah besarnya perhatian orang-orang terhadap kami. Padahal keluarga kami jelas bukan berasal dari golongan orang terpandang atau yang menyandang status sosial tingkat atas. Tapi alhamdulillaah semua ikut berempati (entahlah itu benar atau hanya perasaan saya saja tapi saya selalu berusaha menjaga hati untuk berbaik sangka saja kepada semua orang) 
Tak terbayangkan kalau tidak adanya bala bantuan, mungkin keponakan saya itu masih terlunta-lunta di jalanan. Berkat respon yang cepat hal yang sangat mengerikan bisa dihindari. Hingga akhirnya hanya ucapan syukur tiada henti yang bisa kami ucapkan atas karunia dan anugaerah ini. Bersyukur bahwa kami ditempatkan bersama orang-orang baik dan tulus membantu, ikut menyisir tempat-tempat yang diduga ada si anak, membantu menyiarkan bahkan mendoakan dan bergantian datang ikut membesarkan hati.  Bersyukur juga bahwa para petugas keamanan (polisi, para satpam di mall-mall sampai petugas di stasiun-stasiun kereta) semua sangat mudah untuk diajak bekerja sama,  Maka berkat kerja keras dan bantuan mereka semualah (tanpa henti tanpa jeda) akhirnya adik bungsu saya tidak jadi kehilangan anaknya. Selain itu tentu saja, takdirnya memang seperti itu

Fabi ayyi aa laa i robbikumaa tikadzdzibaan......Maka nikmat Tuhanmu mana lagikah yang kamu dustakan
 

Minggu, 20 Januari 2013

BETULKAH CINTA BISA MENGATASI PERBEDAAN ?

Jujur saja, suka ragu kalau mau menulis tentang cinta. Kenapa...? karena perjalanan rumah tangga kami belum bisa dibilang lama-lama amat, baru 13 tahun. Bukannya saya pesimis atau berniat yang tidak baik akan perjalanan  rumah tangga ini. Tapi melihat beberapa kasus jadi ngeri sendiri. 
 
Ini menimpa seorang teman, bagaimana bisa, rumah tangga yang sudah berjalan selama 18 tahun dan mendapat amanah 4 orang anak yang sedang beranjak remaja serta masih dalam masa pertumbuhan. Tiba-tiba saja bubar di tengah jalan. Apa masalahnya...?   Keadaan ekonomi...? Bukankah mereka sanggup bertahan sampai 18 tahun itu memang sudah dalam keadaan ekonomi yang sangat pas-pasan, malah pernah lebih parah dari sekarang. Selingkuh...? Mereka bukan tipe seperti itu, jangankan untuk membiayai sebuah perselingkuhan, bahkan biaya hidup sehari-hari saja sudah sangat prihtin. 
 
Menyesal atas keputusan yang terlanjur dibuat pecuma saja. Hukum telah menetapkan mereka tak lagi bisa bersama karena sudah jatuh talak 3. Cinta sebesar apaun yang mereka punya tetap tak bisa membalik keadaan. Walau dengan alasan demi memperhatikn kepentingan anak-anak mencoba memohon pertimbangan hakim, tetap tidak bisa, kata telah terlanjur terucap, palu sudah pula diketuk, hukum tetap harus ditegakkan.
 
Ada lagi kisah pilu seorang teman, rumah tangga yang sudah dibina selama 15 tahun dan menghasilkan 4 orang anak juga berantakan begitu saja, hanya karena perbedaan yang tidak prinsip diantara mereka. Padahal selama ini kami melihatnya sebagai pasangan ideal dan begitu romantis di depan umum.
 
Belajar dari pengalaman seperti itulah menjadikan saya lebih arif dalam menyatakan cinta. Yang penting kami bisa menjaga cinta sederhana ini sampai akhir, cukup sudah. Perbedaan apapun yang kami bawa jangan sampai merusak keharmonisan cinta kami. Bahkan semua perbedaan itu harus bisa disikapi dengan arif pula, dengan cinta. 
 
Itupun kadang sukses, kadang masih harus belajar lebih banyak lagi tentang sebuah perbedaan. Tidak mudah memang. Kamipun tidak ingin memaksakan diri bermetamorfosis menjadi pribadi yang berbeda untuk mempertahankan sebuah cinta, karena itu pasti akan sangat menyiksa diri kami sendiri. Dan bukankah justru cinta itu awalnya hadir justru karena kita memang menemukan pribadi yang berbeda dari diri kita sendiri ? Biarkanlah kita berjalan beriringan dengan tetap membawa ciri khas diri kita sendiri

PERUT PRESTASI

"Mbak, hamil lagi ya?". Entah pertanyaan yang keberapa ratus kali dalam setahun terakhir ini. Aku tak menyalahkan mereka karena siapapun yang melihatku pasti akan berpikiran seperti itu. Naik 7 kilo dalam setahun, jadi sah-sah saja pertanyaan seperti itu.
Karena sudah bosan dengan pertanyaan yang sama, paling aku hanya tersenyum yang malah ini dikira jawaban mengiyakan oleh mereka. Atau sesekali kujawab "tunggu saja". Reaksinya adalah "Alhamdulilllaah, kapan lahirannya". Tanpa mau berpanjang-panjang kata segera kujawab "ya tunggu saja".
Hehe...padahal maksud "tunggu saja" adalah ya tunggu saja apakah perut ini akan semakin membesar atau malah sebaliknya.

Soal perut membesar ini tentu saja kadang membuatku risih. Malu ? Sebagai perempuan yang masih sering tampil di hadapan umum tentu saja sering terbersit perasaan itu (wajar kan?). Malu bukan karena orang mengira aku tukang hamil -justru kalau benar ini malah membuatku bangga, di hadapan suami, Allah dan RasulnNya-. Tapi malu karena merasa kurang bisa merawat diri. Hanya kadang-kadang koq terfikir begitu. Seringnya malah tertawa melihat kebingungan mereka, koq hamil 'mulu ya, itu imanjinasiku dalam hati menebak pikiran mereka.

Tapi nanti dulu, lain lagi ceritanya kalau sudah berhadapan dengan suami. Padahal dia satu-satunya orang yang berhak melihat aslinya perutku di balik berlapis-lapis busana yang kupakai. Tanpa merasa risih sedikitpun kukatakan padanya 
"ini adalah perut prestasi, lewat perut ini telah lahir dengan sehat dan selamat 4 orang anak manusia (dengan izin Allah tentunya). Perut ini pula yang dengan dengan ikhlasnya rela dibelah berkali-kali uintuk menyelamatkan anakmu".
Atau sambil bercanda kunyanyikan lagu (mengikuti nada iklan Scot Emulsion) "Badanku dulu....tak begini....tapi kini tak cukup lagi"
Suami hanya tersenyum, yang kuterjemahkan sendiri : "iya aku berhutang budi pada perut itu yang telah memberiku 4  kali kesempatan menjadi seorang ayah"
Kalau aku berpikiran begitu bukan berarti melmparkan kesalahan pada orang lain (suami), tapi semata-mata hanya mencoba berfikiran positif bahwa suami menerima apa adanya keadaan istrinya sekarang. Karena akusangat percaya hal-hal positif atau negatif akan menjadi dan itu semua berawal dari pikiran kita sendiri

Belajar dari Kisah Cinta Habibie-Ainun

Sejak kecil saya sudah mengidolakan Pak Habibie -dengan segala kelebihannya dan keunikannya-. Itu tidak lebih karena ayah saya yang selalu menceritakan dengan bangga kecerdasan, bahkan kejeniusannya. Jelas ayah saya ikut bangga, walau diantara mereka (tentu saja) tidak saling mengenal. Pak Habibie adalah sosok seorang anak bangsa dan -point ini terutama yang membuat ayah terkagum-kagum pada belaiu- seorang muslim yang tidak malu-malu (serta tidak malu-maluin) mempelihatkan jati diri kemuslimannya. Padahal beliau adalah seorang Ingenieur lulusan Jerman, ayah selalu mengatakan ICMI itu identik dengan Pak Habibie. Begitulah selama ini pikiran saya selalau dicekoki dengan hanya hal-hal yang demikian saja orang luar melihatnya.

Oiya, ada satu lagi yang membuat hati saya "berbunga-bunga" kalau mengingat nama beliau. Ini sebenarnya rahasia di hati saya yang sudah tersimpan bertahun-tahun, bahkan sejak kecil.  Bahwa saya patut bangga juga dengan diri saya sendiri karena ditakdirkan lahir di tanggal yang sama dengan beliau. Hahaha, saya sendiri tertawa kalau mengingatnya, khayalan seorang anak kecil bahwa diapun sudah ditakdirkan ikut di barisan orang-orang dengan kemampuan special hanya karena tanggal lahirnya sama dengan seorang jenius. Entahlah bagaimana orang lain menanggapi atau menilai perasaan saya yang satu itu. Tapi sungguh saya pun tidak peduli kalau dianggap berlebih-lebihan atau "lebay" istilah anak-anak saya.
.
Ingatan tentang Pak Habibie berlalu saja di kepala atau hanya sesekali hanya menjadi perbincangan ringan di rumah sampai pada saat kematian Ibu Ainun. Semua media menyorot tentang kedukaan yang teramat sangat dari seorang suami yang baru saja ditinggalkan oleh istri yang telah menemani hidupnya selama 48 tahun. Kisah percintaan Ainun Habibie segera saja menjadi buah bibir di kalangan masyarakat luas. Semua cerita tentang rumah tangga bermuara pada satu kata yaitu kesetiaan. Apalagi hal ini juga dikuatkan oleh beliau sendiri dengan menerbitkan sebuah buku Habibie & Ainun, yang kemudian dibaca dengan sangat pintar oleh produser film. Film dengan judul yang sama segera menjadi  box office sampai bisa menyedot jutaan penonton dalam hitungan hari. Salah satu dari jutaan orang itu adalah saya dan suami.

Saya sungguh tidak tahu mengapa orang beramai-ramai mau melihat kisah hidup beliau. Apakah diam-diam selama ini merekapun sama seperti saya dan ayah saya. Dan ini dibidik dan dikemas dengan sangat baik oleh para sineas, atau ini hanya karena promosi yang jitu, atau gabungan semuanya, entahlah. Yang penting saya dan suami bisa mengambil hikmah dan pelajaran berharga dari kehidupan rumah tangga mereka. Bahwa aral melintang pasti akan dihadapi oleh pasangan manapun. Kalau akhirnya bisa bertahan hingga akhir itu karena niat yang kuat serta dimbangi dengan ketulusan cinta. Tak lupa, doa dan takdir (ingat prinsip, jodoh juga merupakan bagian dari takdir).

Ada lagi satu hal yang sangat membekas di hati saya tentang bagaimana dalamnya perasaan cinta Pak Habibie kepada Ibu Ainun. Sebuah puisi :

  PUISI BJ HABIBIE UNTUK ISTRINYA, AINUN

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. ..

Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, ...
...
dan kematian adalah sesuatu yang pasti ...
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu ....

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, ..

adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi ....

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang ...

Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, ..

pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada, ...

aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini ...

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, ..
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik ..

mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku­ adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini ...

Selamat jalan, ..
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, ...

kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada ...

selamat jalan sayang, ..
cahaya mataku, penyejuk jiwaku, ...

selamat jalan, ...
calon bidadari surgaku ...

- HABIBIE-

PERFEKSIONIS

Tiba-tiba saja ingin menulis tentang salah satu sifat yang mungkin melekat pada diri seseorang, bahkan mungkin ada pada diri kita.Saya teringat tentang sifat yang satu ini setelah berbincang dengan atasan saya, seorang kandidat Doktor pada program pendidikan. Beliau mengatakan sifat perfeksionis itu sudah satu paket dengan "cerewet" karena menginginkan orang lain berbuat sesuai dengan standar dirinya sendiri, ada cela sedikit saja bagai mengundang mercon yang akan meledak tak henti-henti,. Waaduh, langsung sel abu-abu di kepala saya (meminjam istilah dari sebuah novel karya Agatha Cristie untuk menyebut kata otak) melayang-layang teringat pada seseorang.

Sudah lama sekali saya heran pada pada orang satu ini. Seorang wanita paruh baya yang kalau berdekatan dengannya saya merasa dari setiap sisi, baik penampilan, sikap maupun hasil kerja saya selalu diawasi dengan tatapan kurang bahkan tidak puas. Ternyata ini bukan perasaan saya sendiri saja, semua orang yang pernah berinteraksi dengannya merasakan hal yang sama sehingga kadang menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan sampai terjadinya gesekan dan kesahpahaman (untungnya  dengan saya belum pernah karena saya lebih memilih mengalah untuk menang, ajaran dari suami yang sering sekali malah menyelamatkan saya).
Sikap ini tentu saja sangat merepotkan tidak saja bagi orang lain bahkan bagi dirinya sendiri. Keluhannya tentang penyakit yang dirasakannya (kalau saya  menilai) tidak lebih karena dia selalu menghadapi hidup ini dengan tegang dan penuh masalah. Sering sekali saya melihat, saking tidak percayanya pada hasil kerja orang lain sehingga memaksa dirinya sendiri untuk turun langsung menyelesaikan sesuatu yang seharusnya tidak perlu campur tangannya sama sekali.
Karena penasaran saya mencoba mencocokkan analisa dari atasan saya tadi dengan hasil dari googling. ini yang saya dapat   
Positif :
- Termotivasi oleh kebutuhan untuk hidup dengan benar,
- Termotivasi untuk memperbaiki diri sendiri & orang lain
- Cenderung menghindari marah
- Memperhatikan segala sesuatu secara mendetail
- Tidak mudah menyerah, meski harus menanggung beban yang berat
Negatif :
- Menuntut orang lain seperti dirinya, sehingga cenderung mencari-cari kesalahan orang lain
- Over sensitif terhadap berbagai kesalahan & perlakuan tidak adil dari kolega/atasannya
- Cenderung tidak fleksibel & terlalu dogmatis kepada anak buah
- Sering kali beranggapan bahwa banyak orang tidak tahu apa yang harus diperbuat, sehingga menuntut setiap orang berbuat seperti dirinya
Ternyata tidak jauh berbeda. Sehingga sekarang saya merasa lebih ringan lebih siap kalau bertemu lagi dengannya, karena sudah tahu masalah sebenarnya, bukan pada saya, tapi prinsipnya yng terlalu kaku.Tidak lupa saya berdoa agar dia segera menyadari kekeliruannya itu, bahwa tidaklah mungkin mengharapkan kesempurnaan dari orang lain. Sehingga dia bisa terhindar dari berbagai penyakit yang sering dikeluhkannya.