Minggu, 20 Januari 2013

Belajar dari Kisah Cinta Habibie-Ainun

Sejak kecil saya sudah mengidolakan Pak Habibie -dengan segala kelebihannya dan keunikannya-. Itu tidak lebih karena ayah saya yang selalu menceritakan dengan bangga kecerdasan, bahkan kejeniusannya. Jelas ayah saya ikut bangga, walau diantara mereka (tentu saja) tidak saling mengenal. Pak Habibie adalah sosok seorang anak bangsa dan -point ini terutama yang membuat ayah terkagum-kagum pada belaiu- seorang muslim yang tidak malu-malu (serta tidak malu-maluin) mempelihatkan jati diri kemuslimannya. Padahal beliau adalah seorang Ingenieur lulusan Jerman, ayah selalu mengatakan ICMI itu identik dengan Pak Habibie. Begitulah selama ini pikiran saya selalau dicekoki dengan hanya hal-hal yang demikian saja orang luar melihatnya.

Oiya, ada satu lagi yang membuat hati saya "berbunga-bunga" kalau mengingat nama beliau. Ini sebenarnya rahasia di hati saya yang sudah tersimpan bertahun-tahun, bahkan sejak kecil.  Bahwa saya patut bangga juga dengan diri saya sendiri karena ditakdirkan lahir di tanggal yang sama dengan beliau. Hahaha, saya sendiri tertawa kalau mengingatnya, khayalan seorang anak kecil bahwa diapun sudah ditakdirkan ikut di barisan orang-orang dengan kemampuan special hanya karena tanggal lahirnya sama dengan seorang jenius. Entahlah bagaimana orang lain menanggapi atau menilai perasaan saya yang satu itu. Tapi sungguh saya pun tidak peduli kalau dianggap berlebih-lebihan atau "lebay" istilah anak-anak saya.
.
Ingatan tentang Pak Habibie berlalu saja di kepala atau hanya sesekali hanya menjadi perbincangan ringan di rumah sampai pada saat kematian Ibu Ainun. Semua media menyorot tentang kedukaan yang teramat sangat dari seorang suami yang baru saja ditinggalkan oleh istri yang telah menemani hidupnya selama 48 tahun. Kisah percintaan Ainun Habibie segera saja menjadi buah bibir di kalangan masyarakat luas. Semua cerita tentang rumah tangga bermuara pada satu kata yaitu kesetiaan. Apalagi hal ini juga dikuatkan oleh beliau sendiri dengan menerbitkan sebuah buku Habibie & Ainun, yang kemudian dibaca dengan sangat pintar oleh produser film. Film dengan judul yang sama segera menjadi  box office sampai bisa menyedot jutaan penonton dalam hitungan hari. Salah satu dari jutaan orang itu adalah saya dan suami.

Saya sungguh tidak tahu mengapa orang beramai-ramai mau melihat kisah hidup beliau. Apakah diam-diam selama ini merekapun sama seperti saya dan ayah saya. Dan ini dibidik dan dikemas dengan sangat baik oleh para sineas, atau ini hanya karena promosi yang jitu, atau gabungan semuanya, entahlah. Yang penting saya dan suami bisa mengambil hikmah dan pelajaran berharga dari kehidupan rumah tangga mereka. Bahwa aral melintang pasti akan dihadapi oleh pasangan manapun. Kalau akhirnya bisa bertahan hingga akhir itu karena niat yang kuat serta dimbangi dengan ketulusan cinta. Tak lupa, doa dan takdir (ingat prinsip, jodoh juga merupakan bagian dari takdir).

Ada lagi satu hal yang sangat membekas di hati saya tentang bagaimana dalamnya perasaan cinta Pak Habibie kepada Ibu Ainun. Sebuah puisi :

  PUISI BJ HABIBIE UNTUK ISTRINYA, AINUN

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. ..

Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, ...
...
dan kematian adalah sesuatu yang pasti ...
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu ....

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, ..

adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi ....

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang ...

Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, ..

pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada, ...

aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini ...

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, ..
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik ..

mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku­ adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini ...

Selamat jalan, ..
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, ...

kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada ...

selamat jalan sayang, ..
cahaya mataku, penyejuk jiwaku, ...

selamat jalan, ...
calon bidadari surgaku ...

- HABIBIE-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar