Sebut saja namanya Ibu Sholeha. Seorang perempuan sederhana beranak empat tapi sangat luar biasa. Sekarang usianya sudah menjelang 60. Saya mengenalnya kira-kira 11 tahun yang lalu, ketika saya masih sangat belia untuk masalah rumah tangga dan segala pernak-perniknya. Sempat juga kami bergaul akrab. Hanya karena kesibukan, waktu yang jaraklah yang sekarang "memutus" komunikasi diantara kami.
Kalau kata saya Ibu Sholeha ini termasuk "penipu ulung". Bayangkan, siapapun yang baru bertemu dengannya pasti mengira usianya baru memasuki 40. Wajah segar dan berseri-seri serta selalu menyunggingkan senyum membuat orang betah berhadapan dengannya. Padahal -catat ini- dia tidak pernah sama sekali menggunakan kosmetika modern seperti perempuan kebanyakan. Tapi sama sekali tidak tampak kerutan apalagi penuaan dini. Soal kesegaran wajahnya ini saya sempat menyangka, tentu saja karena dia selalu happy apa saja terpenuhi sehingga tidak perlu keningnya berkerut memikirkan kebutuhan apalagi masalah, pasti jauh-jauh dari orang berwajah segar seperti beliau.
Ternyata dugaan saya sama sekali salah, dengan sangat terbuka dan diiringi dengan nasehat (ini juga ciri khasnya, nasehat) beliau memulai kisahnya :
"Erni, apapun yang saya ceritakan ini bukan karena saya pintar apalagi sombong, tapi tidak lain agar dirimu bisa mengambil hikmah yang banyak dari pengalaman pribadi saya. Semoga tidak terulang, kalaupun terjadi ambil langkah yang tepat, jangan turuti perasaan dan emosi".
Saya dan suami menikah bukan karena dijodohkan, tapi murni karena cinta, memang awalnya ada sedikit masalah dengan keluarga karena perbedaan suku. Suami yang dari Sumatera Barat rupanya diharapkan menikah dengan orang dari sana juga. Saya yang asli Betawi juga diharapkan mendapatkan jodoh jangan yang jauh-jauh, suku apa saja asal masih satu pulau (takut repot diajak pulang kampung kali ya....hehehe canda saya dalam hati -erni).
Seperti kebanyakan orang dari sana, suami saya adalah seorang pengusaha. Terbilang sukses bagi ukuran saya. Tentu ini juga menjadi kebanggaan bagi orang tua dan saudara-saudaranya yng sangat banyak. Sehingga ketika mereka berkumpul saya merasa agak tersisihkan. Mereka memang sering sekali berkumpul. Tetapi saya jarang dilibatkan dalam pembicaraan apalagi pengambilan keputusan bahkan untuk hal-hal yang berhubungan dengan suami saya. Ini sangat dimaklumi karena saya sadar posisi, mungkin dianggap sebagai istri yang tidak diharapkan keharapkannya oleh mereka juga kontribusi saya yang dianggap tidak ada untuk pemasukan keuangn keluarga, semua murni dari hasil jerih payah suami saya".
"Tapi sungguh itu semua tidak masalah buat saya, sikap apapun yang mereka tunjukkan tidak sedikitpun mengurangi bakti saya kepada ibu mertua. Sehingga ini yang membuat suami makin cinta dan selalu membela saya di hadapan saudara-saudaranya".
"Anehnya walaupun seperti itu sikap mereka tetap saja ketika datang ke Jakarta pasti yang pertama kali ingin ditemui oleh beliau adalah saya, bukan anak-anaknya atau menantu-menantunya yang lain. Bahkan ibu mertua lebih memilih tinggal bersama saya ketika di Jakarta, padahal rumah anak-anaknya yang lain jauh lebih bagus dari rumah saya, mungkin ini juga salah satu penyebab kecemburuan mereka kepada saya".
Selanjutnya baca Oh Ibu Soleha Part-2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar