"Begitulah hari demi hari saya lalui dengan perasaan bahagia sebab cinta kami yang bisa mengatasi perbedaan. Kalaupun sedikit ada ganjalan, itu saya pastikan bukan dari dalam rumah saya, tapi mereka saja yang merasa ada masalah. yang penting saya sudah berusaha dengan maksimal sesuai dengan kemampuan saya untuk selalu berbuat baiki kepada mereka, bahkan memberikan apapun yang mereka inginkan selalu kami sanggup".
"Tetapi bukan kehidupan namanya kalau tidak dilalui dengan ujian dan cobaan, termasuk kehidupan berumah tangga. Ketika saya merasa sedang berada di puncak kebahagiaan dalam rumah tangga, cobaan itu akhirnya menghampiri saya juga".
"Suami yang awalnya selalu bersikap manis di rumah tiba-tiba saja berubah, jadi sering marah dan sering sekali keluar rumah. Perubahan ini saya amati terus, anehnya saya merasa wajar saja, mungkin ini yang namanya mendapat ujian harta. Rupanya suami saya kurang siap menerima limpahan rezeki yang dengan mudah mengalir melalui usahanya".
"Suami yang awalnya selalu bersikap manis di rumah tiba-tiba saja berubah, jadi sering marah dan sering sekali keluar rumah. Perubahan ini saya amati terus, anehnya saya merasa wajar saja, mungkin ini yang namanya mendapat ujian harta. Rupanya suami saya kurang siap menerima limpahan rezeki yang dengan mudah mengalir melalui usahanya".
"Hari demi hari kelakuannya semakin menjadi-jadi, mulai berani membentak saya, pulang tengah malam dengan mulut bau alkohol, bahkan kadang tidak pulang. Yang paling "hebat" dia sudah berani meninggalkan sholat. Saya bukannya tidak ada usaha juga untuk merubah keadaan ini. Sesekali saya nasehati dia pelan-pelan. Tapi bukannya kembali menjadi baik malah saya yang dimarahi disuruh diam saja. Rupanya sudah tidak bisa dia dinasehati pakai kata-kata, ujungnya malah membuat kami ribut sampai didengar anak-anak. Dan saya tidak mau itu terulang lagi, makanya saya memilih diam".
"Akhirnya saya terima saja perlakuannya itu, hanya berdoa yang bisa saya lakukan karena hanya Allah yang kuasa untuk membolak balik hati manusia. Walau dengan sangat terpaksa dan hati pedih, saya masih seperti biasa melayaninya dengan baik dan penuh pengabdian. Sebetulnya saya menangis tiap kali membukakan pintu untuknya, tapi tangis itu saya simpan karena khawatir itu malah akan memancing emosinya saja. Saya siapkan air hangat untuknya mandi, menyiapkan makanan kesukaannya. Saya ajak ke kamar dan saya selimuti dia sampai dia tertidur pulas".
"Rupanya kesabaran saya benar-benar sedang diuji. Ketika tertidur, dia mengigau menyebut nama seorang perempuan.Tentunya sangat panas hati ini. Kalau selama ini saya bisa bersabar atas semua kelakuan buruknya tapi tidak untuk urusan perempuan. Bergemuruh luar biasa hati ini dimakan rasa cemburu. Ketika ditanya dia tidak mengaku dan seperti biasa, marah-marah. Rupanya sudah sebegini parahnya akibat pengaruh harta dan buruknya pergaulan".
"Didorong rasa penasaran saya mencari informasi tentang kecurigaan saya itu. Bak petir di siang bolong, ingin pingsan rasanya mendengar berita bahwa ternyata dia baru saja menikah lagi. Saya sangat marah dan tidak bisa menerima keadaan ini. Tapi juga bingung bagimana menghadapi ini semua. Ingin mengadu kepada orang tua, jelas tidak berani karena dari awal mereka kurang sreg dengan pilihan saya. Pasti akan menyakiti hati kedua orang tua kalau mereka mendengar ini semua. Jadinya saya tutupi saja di hadapan seluruh keluarga besar saya".
"Tak ada jalan lain, saya mencoba menghubungi keluarga suami untuk sekedar memberi nasehat kepada suami saya. Tapi jangankan memenuhi harapan saya, bersimpati pun tidak, bahkan saya yang dipersalahkan tidak bisa menjaga suami. Ya sudah, saya pulang dengan perasaan hancur berkeping-keping. Untuk menghibur hati, saya mencoba menghubungi seorang doktor, biasa memberikan konsultasi perkawinan di televisi, tarifnya lumayan. Tapi tetap tidak menjawab keresahan di hati saya. Semua yng disampaikannya adalah teori-teori yang sudah saya hafal, bukan itu yang saya cari".
"Akhirnya dengan kepasrahan yang luar biasa, saya hadapi itu semua sendirian. Menangis di kamar, tapi tidak di depan suami karena saya tidak mau terlihat sangat lemah tak berdaya. Semua kebutuhannya saya layani seperti biasa, tanpa pernah sedikitpun menyinggung 'dosa-dosa'nya kepada saya dan anak-anak. Itu semua saya lakukan hanya karena merasa sangat tidak berdaya. Di pikiran saya yang sederhana ini, hanya ada satu tujuan, yaitu menyelamatkan rumah tangga kami demi masa depan anak-anak, tidak lebih. Dan itu hanya bisa terjadi kalau dia merasa nyaman disini, di rumah kami bersama saya dan anak-anak. Tidak perlu bawa-bawa masalahnya di luar ke dalam rumah kami ini. Toh dia juga tidak pernah bicara apa-apa pada saya. Semua saya buat seolah-tidak ada apa-apa."
Rupanya suami trenyuh melihat kesabaran saya, hingga pada suatu hari dia berkata : "Sholeha, maafkan aku selama ini sudah terlalu banyak dosaku padamu, tapi sungguh kau tidak pernah berubah, kau baik sekali, aku merasa seperti seorang anak kecil yang nakal dan kau seperti seorang ibu yang sangat mengerti keadaanku. Aku memang terlibat dengan seorang perempuan dan sudah menikah dengannya, sekarang dia sedang hamil. Maafkan aku Sholeha, kalau ku mau marah, marahlah tapi aku tak meninggalkannya dalam keadaan seperti itu, tapi percayalah aku masih sangat mencintaimu".
"Ya Allah, apalagi ini. Walaupun saya sudah menyiapkan diri mendengar ini semua tetap saja seperti tersengat setrum tegangan tinggi. Tak ada jawaban baginya dan memang tak perlu dijawab. Soal kata-kata cintanya?....seratus persen saya tidak percaya. Tapi nasi sudah menjadi bubur, tekad saya sudah bulat untuk bertahan demi anak-anak, Allah pasti akan memberi jalan kepada saya.
Setelah hari itu semua berjalan normal seperti biasa, dengan catatan, saya resmi mempunyai madu, duh....sangat pahit diucapkan dan didengar.
Akan halnya dengan keyakinan saya, janji Allah itu pasti asal kita bersabar dan sholat, tiba-tiba suami mengabarkan bahwa dia sudah menceraikan istri barunya karena merasa tidak ada keadamaian ketika berada disana, sedangkan ketika bersama saya, dia mendapatkan segalanya tanpa syarat. Bersyukur dalam hati ?.......sudah pasti. Tapi rupanya belum selesai juga ujian dari Allah lewat suami. Dia meminta saya mengurus anaknya yang masih bayi".
Singkat cerita, selama setahun saya mengurus bayi anak suami saya dengan perempuan lain. Dihadapan tetangga dan saudara-saudara kami mengakuinya sebagai anak angkat. Ini demi menjaga nama baik suami. Setelah setahun anak itu kemudian diminta kembali oleh ibunya, padahal saya sudah mulai jatuh hati kepada anak itu. Tapi kami berikan dengan ikhlas karena memang dia lebih berhak.
Berita baiknya, dampak dari itu semua suami tampak jadi salah tingkah kepada saya. Dia jauh menjadi lebih daripada yang dulu saya kenal. Sikap mesranya juga idak dibuat-buat. Misalnya saja ketika saya mau ke pasar dia memaksa untuk mengantar, kalau habis hujan dia keluar dulu mencarikan jalan yang tidak ada genangan airnya untuk saya.
Itulah Erni, kisah kehidupan rumah tangga saya. Walau berat dan kadang masih membekas tapi tetap saya bersyukur Allah telah memberi pelajaran berharga kepada suami untuk lebih menghormati saya sebagai istrinya. Begitu juga dengan saudara-saudara suami, mereka jadi lebih baik kepada saya. Apalagi mertua, selalu membanggakan saya di depan anak-anaknya yang lain. Ini saya dengar sendiri dari saudar-saudara suami."
Untuk Ibu Sholeha, terima kasih telah mau berbagi. Entahlah kalau saya mengalami nasib yang sama (amit-amiiit...jangan sampe). Belum tentu sanggup seperti beliau. Tapi Allah memang Maha Adil, memberikan cobaan hanya kepada yang sanggup menerimanya.
Salam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar