Pendidikan dari orang tua sejak kecil, pengalaman, keadaan
serta keimanan telah membentuk pribadi saya untuk tidak mengaharap simpati yang
berlebih dari sesama makhluk. Berbekal ini pulalah yang membuat saya sanggup
menahan cobaan yang maha berat bagi seorang ibu.
Maka jikapun pada akhirnya saya banyak berbagi tentang
keadaan hati, itu bukan berniat mencari simpati apalagi untuk dikasihani.
Karena dengan kesadaran penuh saya tahu, setelah itu didapat lalu apa untungnya
buat saya ? Takdir akan tetap berjalan sesuai kehendakNya, bukan kehendak saya
atau kawan-kawan yang bersimpati.
Ketika saya berbagi hanya ada satu niat dalam hati, bahwa
ini pernah saya alami dan siapapun bisa saja mengalami hal ini di waktu yang
sama sekali tidak kita duga, jika
akhirnya mengalami juga sudah terbangun kesadaran bahwa kita ternyata bukan yang pertama dan tidak sendiri.
Allah lah yang telah menuntun saya untuk mengenal Ibu Mukti
Amini Farid melalui Facebook, klop dengan hobby beliau yang suka menulis
dan saya yang senang membaca. Maka jadilah saya sebagai pembaca
setia tulisan-tulisan beliau. Apalagi ketika menceritakan tentang keluarga,
sama dengan saya, ibu beranak 4 (empat).
Hingga pada suatu hari di akhir September atau awal Oktober
2010 saya menemukan tulisannya yang tidak biasa, tentang kepergiaan balitanya
secara mendadak. Naluri seorang Ibulah yang membuat saya selalu menangis setiap
setiap membaca apapun yang beliau sajikan tentang putrinya dan takdir yanmg
menghampiri mereka. Tidak jarang pula saya ikut berkomentar untuk sekedar
menyatakan turut berduka atau mendoakan karena saya juga adalah seorang ibu.
Setahun saya masih menjadi pembaca setia bagaimana seorang
ibu harus berjuang menahan rasa rindu tak terkira di tengah kesibukan yang luar
biasa. Dan sampailah apa yang pernah saya pelajari dari guru mengaji waktu maih
kecil bahwa setiap manusia telah mengadakan perjanjian tentang takdirnya di
dunia ribuan tahun sebelum dia dilahirkan. Perjanjian itu lalu tersimpan di
Lauhul Mahfudz, tempat yang hanya Allah yang bisa menjangkaunya. Ternyata di
perjanjian itu perjanjian putra bungsu saya hanya hidup di dunia selama 2 tahun
saja.
Jumat siang menjelang sore16 September 2011 bertepatan di
hari ulang tahunnya yang kedua pada kalender hijriyah 17 Syawal.Allah
mebgambilnya kembali. Setelah itu kata ikhlas dan sabar sudah menjadi santapan
saya
Maka, kekuatan apakah yang membuat saya sanggup bertahan ? Selain keimanan tentang menerima takdir,
terbangun sebuah kesadaran bahwa saya
bukan yang pertama dan tidak sendiri. Dan itu bisa saya dapatkan
berkat rajinnya seorang ibu berbagi cerita tentang hati seorang bunda yang
mengalami hal yang sama.
Lalu apakah sampai disitu
saja ? Tidak, beberapa bulan kemudian
ketika saya berta’ziyah ke rumah seorang kawan lama (Dora Agustina) yang
kehilangan putri ketiganya secara mendadak pula, di bercerita :
“Erni, entah kekuatan apa yang ,membuat gue rajin baca
curhatanloe di fb sebulan ini. Semuanya gw baca sampe tulisan ibu Muktia yang
loe sharing juga gw baca sambil nangis, dan gue juga cerita soal ini ke mama.
Ternyata ini rahasia Tuhan, mengkondisikan ini biar gue juga akhirnya siap
menghadapi hal yang sama”.
Lalu ada ada lagi seorang sahabat lama kami, Nini Marlina
(aslinya dia adalah kawan suami saya). Saya masih teringat dia datang
berta’ziyah di malam hari dengan membawa serta 2 orang putra putinya yang masih duduk di bangku SD kelas rendah. Waktu
anaknya bertanya sambil menatap jenazah bungsu saya “kenapa dengan adek,
bunda?”
Dengan gaya
seorang ibu yang bijak sambil berlinang airmata dia menjawab “ini yang namanya
takdir nak, tidak usah mempertanyakan
kenapa orang bisa meninggal, karena Allah sudah menetapkan umur setiap
orang”
Setahun sesudah kunjungannya itu, saya mendapat kabar
tentang kematian bayinya yang baru dilahirkan, saat itu dia berkata “sekarang
aku tahu rasanya Erni”
“Erni, ternyata untuk ikhlas itu susah sekali ya, lancar di
mulut tapi beraat sekali untuk dilaksanakan. Aku baru tahu rasanya kehilangan”
Wooow, tanpa bermaksud mengecilkan kehilangannya, saya mikir
juga “sepasang suami istri yang terlihat sangat mapan, berlatar belakang usaha
mereka yang maju pesat, kehilangan barang elektronik masih dirasa berat juga’
apalagi kehilangan yang lain”
Kesimpulan : berbaik sangka kepada orang, mengirim sedikit
simpati sejatinya bukan buat orang lain, tapi akan kembali kepada kita sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar