Sabtu, 22 Juni 2013

Aku Bukan Yang Pertama dan Tidak Sendiri

Pendidikan dari orang tua sejak kecil, pengalaman, keadaan serta keimanan telah membentuk pribadi saya untuk tidak mengaharap simpati yang berlebih dari sesama makhluk. Berbekal ini pulalah yang membuat saya sanggup menahan cobaan yang maha berat bagi seorang ibu.
Maka jikapun pada akhirnya saya banyak berbagi tentang keadaan hati, itu bukan berniat mencari simpati apalagi untuk dikasihani. Karena dengan kesadaran penuh saya tahu, setelah itu didapat lalu apa untungnya buat saya ? Takdir akan tetap berjalan sesuai kehendakNya, bukan kehendak saya atau kawan-kawan yang bersimpati.
Ketika saya berbagi hanya ada satu niat dalam hati, bahwa ini pernah saya alami dan siapapun bisa saja mengalami hal ini di waktu yang sama sekali tidak kita duga,  jika akhirnya mengalami juga sudah terbangun kesadaran bahwa kita ternyata bukan yang pertama dan  tidak sendiri.
Allah lah yang telah menuntun saya untuk mengenal Ibu Mukti Amini Farid melalui Facebook, klop dengan hobby beliau yang suka menulis dan  saya yang senang  membaca. Maka jadilah saya sebagai pembaca setia tulisan-tulisan beliau. Apalagi ketika menceritakan tentang keluarga, sama dengan saya, ibu beranak 4 (empat). 
Hingga pada suatu hari di akhir September atau awal Oktober 2010 saya menemukan tulisannya yang tidak biasa, tentang kepergiaan balitanya secara mendadak. Naluri seorang Ibulah yang membuat saya selalu menangis setiap setiap membaca apapun yang beliau sajikan tentang putrinya dan takdir yanmg menghampiri mereka. Tidak jarang pula saya ikut berkomentar untuk sekedar menyatakan turut berduka atau mendoakan karena saya juga adalah seorang ibu.
Setahun saya masih menjadi pembaca setia bagaimana seorang ibu harus berjuang menahan rasa rindu tak terkira di tengah kesibukan yang luar biasa. Dan sampailah apa yang pernah saya pelajari dari guru mengaji waktu maih kecil bahwa setiap manusia telah mengadakan perjanjian tentang takdirnya di dunia ribuan tahun sebelum dia dilahirkan. Perjanjian itu lalu tersimpan di Lauhul Mahfudz, tempat yang hanya Allah yang bisa menjangkaunya. Ternyata di perjanjian itu perjanjian putra bungsu saya hanya hidup di dunia selama 2 tahun saja.
Jumat siang menjelang sore16 September 2011 bertepatan di hari ulang tahunnya yang kedua pada kalender hijriyah 17 Syawal.Allah mebgambilnya kembali. Setelah itu kata ikhlas dan sabar sudah menjadi santapan saya
Maka, kekuatan apakah yang membuat saya sanggup bertahan ? Selain keimanan tentang menerima takdir, terbangun sebuah kesadaran bahwa saya bukan yang pertama dan tidak sendiri. Dan itu bisa saya dapatkan berkat rajinnya seorang ibu berbagi cerita tentang hati seorang bunda yang mengalami hal  yang sama.
Lalu apakah sampai disitu  saja ? Tidak, beberapa bulan  kemudian  ketika saya berta’ziyah ke rumah seorang kawan lama (Dora Agustina) yang kehilangan putri ketiganya secara mendadak pula, di bercerita :
“Erni, entah kekuatan apa yang ,membuat gue rajin baca curhatanloe di fb sebulan ini. Semuanya gw baca sampe tulisan ibu Muktia yang loe sharing juga gw baca sambil nangis, dan gue juga cerita soal ini ke mama. Ternyata ini rahasia Tuhan, mengkondisikan ini biar gue juga akhirnya siap menghadapi hal yang sama”.  
Lalu ada ada lagi seorang sahabat lama kami, Nini Marlina (aslinya dia adalah kawan suami saya). Saya masih teringat dia datang berta’ziyah di malam hari dengan membawa serta 2 orang putra putinya yang  masih duduk di bangku SD kelas rendah. Waktu anaknya bertanya sambil menatap jenazah bungsu saya “kenapa dengan adek, bunda?”
Dengan gaya seorang ibu yang bijak sambil berlinang airmata dia menjawab “ini yang namanya takdir  nak, tidak usah mempertanyakan kenapa orang bisa meninggal, karena Allah sudah menetapkan umur setiap orang”   
Setahun sesudah kunjungannya itu, saya mendapat kabar tentang kematian bayinya yang baru dilahirkan, saat itu dia berkata “sekarang aku tahu rasanya Erni”
  
Ada lagi teman yang lain, mati-matian dia berjuang menghibur saya, rajin mengirimi inbox agar bersabar dan ikhlaskan saja (sesuatu yang sudah pasti kita lakukan kan? Habis mau ngapain lagi), katanya lagi ini hanya perasaan sesaat nanti juga kamu akan lupa. Saya berpikir bijak sekali teman saya ini, sampai beberapa bulan kemudian, rumahnya dijarah orang dan mengambil barang-barang elektronik miliknya, lalu dia juga mengirimi saya inbox :
“Erni, ternyata untuk ikhlas itu susah sekali ya, lancar di mulut tapi beraat sekali untuk dilaksanakan. Aku baru tahu rasanya kehilangan”
Wooow, tanpa bermaksud mengecilkan kehilangannya, saya mikir juga “sepasang suami istri yang terlihat sangat mapan, berlatar belakang usaha mereka yang maju pesat, kehilangan barang elektronik masih dirasa berat juga’ apalagi kehilangan yang lain”

Kesimpulan : berbaik sangka kepada orang, mengirim sedikit simpati sejatinya bukan buat orang lain, tapi akan kembali kepada kita sendiri.                            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar