Hari yang sangat melelahkan. Ini bukan sebuah ungkapan ketidakpuasan atas apapun apalagi keluhan. Tapi betul2 capek di badan dan mata dan pikiran karena sebuah peristiwa yang sangat ngeri untuk membayangkannya (untung saja itu sudah berlalu).
Adik saya yang bungsu hampir saja mengalami musibah kehilangan anak laki-lakinya yang baru berumur 8 tahun. Tapi -sekali lagi- untung saja itu sudah berlalu. Sungguh 24 jam yang sangat menegangkan dan melelahkan mencari seorang anak kecil ditengah keramaian dan hiruk pikuk kota sebesar Jakarta ini, bagaikan mencari sebuah jarum di tumpukan jerami.
Entah kenapa saya sangat enggan untuk menceritakan kronologis kejadiannya (seperti biasa, saya paling "ogah" kalau harus menceritakan pengalaman buruk yang menimpa siapapun). Jadi singkat cerita, setelah menghilang selama 24 jam, akhirnya keponakan saya ditemukan dalam keadaan sehat wal 'afiat. Walau tetap akan dibawa untuk pemeriksaan ke rumah sakit hanya sekedar untuk memastikan bahwa dia memang baik-baik saja tidak kurang suatu apapun.
Yang menjadi titik perhatian saya atas kejadian ini adalah besarnya perhatian orang-orang terhadap kami. Padahal keluarga kami jelas bukan berasal dari golongan orang terpandang atau yang menyandang status sosial tingkat atas. Tapi alhamdulillaah semua ikut berempati (entahlah itu benar atau hanya perasaan saya saja tapi saya selalu berusaha menjaga hati untuk berbaik sangka saja kepada semua orang)
Tak terbayangkan kalau tidak adanya bala bantuan, mungkin keponakan saya itu masih terlunta-lunta di jalanan. Berkat respon yang cepat hal yang sangat mengerikan bisa dihindari. Hingga akhirnya hanya ucapan syukur tiada henti yang bisa kami ucapkan atas karunia dan anugaerah ini. Bersyukur bahwa kami ditempatkan bersama orang-orang baik dan tulus membantu, ikut menyisir tempat-tempat yang diduga ada si anak, membantu menyiarkan bahkan mendoakan dan bergantian datang ikut membesarkan hati. Bersyukur juga bahwa para petugas keamanan (polisi, para satpam di mall-mall sampai petugas di stasiun-stasiun kereta) semua sangat mudah untuk diajak bekerja sama, Maka berkat kerja keras dan bantuan mereka semualah (tanpa henti tanpa jeda) akhirnya adik bungsu saya tidak jadi kehilangan anaknya. Selain itu tentu saja, takdirnya memang seperti itu
Fabi ayyi aa laa i robbikumaa tikadzdzibaan......Maka nikmat Tuhanmu mana lagikah yang kamu dustakan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar