Minggu, 20 Januari 2013

PERUT PRESTASI

"Mbak, hamil lagi ya?". Entah pertanyaan yang keberapa ratus kali dalam setahun terakhir ini. Aku tak menyalahkan mereka karena siapapun yang melihatku pasti akan berpikiran seperti itu. Naik 7 kilo dalam setahun, jadi sah-sah saja pertanyaan seperti itu.
Karena sudah bosan dengan pertanyaan yang sama, paling aku hanya tersenyum yang malah ini dikira jawaban mengiyakan oleh mereka. Atau sesekali kujawab "tunggu saja". Reaksinya adalah "Alhamdulilllaah, kapan lahirannya". Tanpa mau berpanjang-panjang kata segera kujawab "ya tunggu saja".
Hehe...padahal maksud "tunggu saja" adalah ya tunggu saja apakah perut ini akan semakin membesar atau malah sebaliknya.

Soal perut membesar ini tentu saja kadang membuatku risih. Malu ? Sebagai perempuan yang masih sering tampil di hadapan umum tentu saja sering terbersit perasaan itu (wajar kan?). Malu bukan karena orang mengira aku tukang hamil -justru kalau benar ini malah membuatku bangga, di hadapan suami, Allah dan RasulnNya-. Tapi malu karena merasa kurang bisa merawat diri. Hanya kadang-kadang koq terfikir begitu. Seringnya malah tertawa melihat kebingungan mereka, koq hamil 'mulu ya, itu imanjinasiku dalam hati menebak pikiran mereka.

Tapi nanti dulu, lain lagi ceritanya kalau sudah berhadapan dengan suami. Padahal dia satu-satunya orang yang berhak melihat aslinya perutku di balik berlapis-lapis busana yang kupakai. Tanpa merasa risih sedikitpun kukatakan padanya 
"ini adalah perut prestasi, lewat perut ini telah lahir dengan sehat dan selamat 4 orang anak manusia (dengan izin Allah tentunya). Perut ini pula yang dengan dengan ikhlasnya rela dibelah berkali-kali uintuk menyelamatkan anakmu".
Atau sambil bercanda kunyanyikan lagu (mengikuti nada iklan Scot Emulsion) "Badanku dulu....tak begini....tapi kini tak cukup lagi"
Suami hanya tersenyum, yang kuterjemahkan sendiri : "iya aku berhutang budi pada perut itu yang telah memberiku 4  kali kesempatan menjadi seorang ayah"
Kalau aku berpikiran begitu bukan berarti melmparkan kesalahan pada orang lain (suami), tapi semata-mata hanya mencoba berfikiran positif bahwa suami menerima apa adanya keadaan istrinya sekarang. Karena akusangat percaya hal-hal positif atau negatif akan menjadi dan itu semua berawal dari pikiran kita sendiri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar