Jumat, 22 Juli 2016

RUDY HABIBIE

Tergerak dengan seruan seorang sahabat yang sudah terlebih dahulu menonton film ini yang katanya wajib saya tonton. Ya  dia  tahu persis bahwa salah satu tokoh idola saya adalah Pak Habibie.  Sejak kecil sudah kenyang mendengar ayah selalu menyebut nama BJ Habibie adalah aset bangsa yang sangat berharga, jenius, cinta tanah air dan cinta Islam. Kata ayah Pak Habibie terbukti cinta Islam dengan mendirikan ICMI. Beliau juga memilih pulang ke tanah air padahal bila mau hidup tenang dan mapan pemerintah Jerman siap menerima.


Selain hal tersebut di atas ada lagi yang membuat saya selalu menyukai Pak Habibie, sebetulnya ini alasan yang sangat pribadi yaitu kesamaan tanggal lahir. Kami ditakdirkan dilahirkan pada tanggal yang sama 25 Juni. Cie cie cie pake bahasa kami biar berasa kedekatannya. Merasa beruntung dengan kebetulan kesamaan tersebut dan selalu merasa bersyukur, mungkin saya termasuk ke dalam salah satu orang yang berotak cerdas .... gkgkgk pengen nutup muka jadinya. Dan ada satu lagi, beliau pernah bersekolah di ITB. Sampai detik tulisan ini dibuat saya masih percaya ITB adalah tempat mencetak orang-orang keren, pintar dan romantis. Ups ... skip.


Kembali ke film. Saya menonton tanpa membawa pikiran apapun, tanpa berbekal resensi dan percaya saja bahwa wajib nonton karena ini betulan  berkualitas tanpa disebutkan bagusnya dimana. Atau mungkin sahabat saya ini ingin membalas kejadian 2 bulan lalu saat saya berhasil menariknya ke gedung bioskop untuk menyaksikan akting Reza dan BCL (pemain utama Ainin Habibi1) bermain dalam film bodoh “My Stupid Boss”. Untuk seorang super sibuk seperti si Ibu direktur ini menonton aksi orang stupid adalah sebuah penyiksaan, maka nama saya yang pertama diingatnya untuk memastikan saya tidak membuang-waktu waktu dengan sesuatu yang tidak bermutu.


Film dimulai dengan latar belakang keluarga Habibie dan tempat dimana beliau dilahirkan dan dibesarkan. Sebuah keluarga yang harmonis dilandasi dengan tanggung jawab terhadap keluarga, orangtua dan agama. Kedekatan Habibie dengan sang ayah, mungkin inilah yang kelak akan menumbuhkan karakter percaya diri pada beliau. Jiwa kepemimpinan telah tertanam sejak kecil, bisa terlihat saat Habibie kecil dengan sigap dalam hitungan detik menggatikan menjadi imam saat ayahnya terjatuh dan meninggal. Dalam berbagai adegan juga digambarkan bagaimana kedua orang tua selalu mendidik dengan landasan agama.  Suatu bekal yang sangat berguna ketika dewasa Habibie muda banyak menghadapi masalah di negri nan jauh di sana, beliau selalu sholat untuk menenangkan dirinya.  Untuk ini ingin rasanya memberikan keempat jempol untuk mengapresiasi tapi kemudian dibatalkan dengan cukup memberi 2 jempol saja  karena sebuah peristiwa yang menurut saya agak janggal.


Pada saat Habibie sedang kalut karena suatu masalah, beiau mencari masjid untuk menenangkan diri dengan sholat seperti kebiasannya selama ini. Tapi berhubung ini adalah negara Jerman yang mayoritas penduduknya adalah Kristen maka bukan masjid melainkan gereja  yang didapat.  Dengan diiringi rasa bersalah dan memohon ampunan kepada Allah  atas keadaan ini maka jadilah beliau menghadap Allah SWT di dalam ruangan gereja sebab memang tidak ditemukan masjid seperti keinginan Habibie. It’s okay untuk sekali ini tidak masalah juga saya pikir, kan darurat dan yang penting suci dari najis dan menghadap kiblat. Yang membuat saya kecewa adalah ketika kejadian itu berulang di lain waktu. Sewaktu membutuhkan ketenangan batin Habibie kembali mendatangi gereja bahkan kemudian terjadi sebuah percakapan yang dikesankan menyejukkan dengan dengan seorang pastur asal Jawa. Srrr ... seketika menangkap sebuah aroma yang sangat halus untuk penggiringan opini bahwa seorang Habibie yang sangat agamis pun bisa begitu saja mengaduk-aduk akidah. Terlalu berat ? Tidak. Siapapun muslim yang  pernah mempelajari agamanya dengan benar pasti tahu bahwa keyakinan bahwa Allah SWT Yang Maha Esa adalah mutlak dan itu dibuktikan dengan menjalankan ibadah sesuai aturan dariNya, tidak dicampur aduk. Mungkin betul ini adalah peristiwa yang pernah beliau alami sendiri. Tapi mengapa seperti ingin ditonjolkan dengan mengabadikannya dalam 2 scene.


Dan itu semua terjawab sendiri ketika di akhir film tertulis bahwa ternyata sang Director adalah Hanung Bramantyo. Hmm ... tidak heran lagi, walau kali ini dibuat sehalus mungkin tidak seperti karyanya terdahulu “Perempuan Berkalung Sorban” yang pantas dilepehkan sejak awal karena telah dengan sengaja menggambarkan Islam dalam  versinya sendiri dengan sangat kasar dan kentara. Maka dengan sinis saya berikan 2 jempol yang tidak jadi tadi untuk misinya Bung Hanung. Sangat halus, tidak terasa namun mengena. Bukan golongan JIL namanya kalau tidak ada maksud tersembunyi untuk menjauhkan umat Islam dengan aturan agamanya sendiri.


Tapi diluar kekecewaan tadi saya tetap merekomendasi film ini untuk ditonton oleh keluarga Indonesia atas keteladanan karakter tokoh di dalamnya. Seperti sang ibunda, bagaimana beliau menyelesaikan masalah dengan anggun namun tetap menampilkan ketegasan. Cukup terobati juga kerinduan pada akting Dian Nitami yang berwajah dingin saat medatangi Ilona namun kembali mencair dan hangat dalam percakapan. Ciri khas wanita Jawa. Atau karakter ayah yang pastinya karakter ini sangat dirindukan oleh para istri dan ibu dimanapun. Setting tempat antara Jerman, Pare Pare, Gorontalo, Makassar dan Bandung juga tidak membuat bosan. Sangat indah menyaksikan salju di musim diantara gedung tinggi kokoh serta teratur diselingi dengan pemandangan alam Indonesia di masa perang melawan Jepang. Jadi kesimpulannya film ini tetap layak ditonton walau untuk anak anak harus dengan pendampingan penuh karena khawatir apa-apa yang ada di dalam film tersebut dianggap benar semua dan bisa ditiru dalam kehidupan sehari-hari. Selamat menyaksikan film 2 jempol ini semoga dapat mengambil hikmah yang besar di dalamnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar