Kamis, 21 Agustus 2014

RINJANI MEMBAWA RINDU

Melihat postingan teman lama saya di facebook membuat ingatan melayang ke belasan tahun silam. Teman saya ini, Hary Ramdhani namanya telah mempublish sebuah foto lama sewaktu melakukan perjalanan ke puncak Rinjani. Istimewanya, perjalanan itu dilakukan bersama pacar saya. Hahaha.....saya tidak akan menutupi kenyataan itu walau pada akhirnya kami sadar bahwa ternyata pacaran itu sebuah tradisi yang sama sekali tidak dikenal bahkan dilarang dalam Islam. Hingga akhirnya buru2 kami menikah muda. Waktu itu di usia 24 teman-teman lain belum berfikir kesana kami sudah mengambil langkah itu karena berbekal kesadaran tadi.

Tapi sudahlah itu topik lain yang tidak akan saya bahas lebih lanjut kali ini. Saya hanya teringat bahwa perjalanan itu memakan waktu kurang lebih selama 2 minggu. Seharusnya bisa dipersingkat kalau mereka naik pesawat. Tapi......tahun 90an itu jangan dibayangkan seperti sekarang yang bisa dengan mudahnya naik pesawat dengan tarif yang bisa disesuaikan antara kantong dan maskapai yang akan dipilih. Tidak saudara-saudara......jaman itu yang mampu naik pesawat hanya mereka-mereka yang sudah sangat mapan dalam ekonomi. Sementara rombongan kecil pacar itu hanyalah sekelompok anak muda dengan modal seadanya yang punya tekad kuat untuk memecahkan rekor mereka selama ini yang hanya berbekal petualangan menaklukan puncak gunung di pulau Jawa. Mereka menempuh jalur darat dengan cara ngeteng gonta ganti kendaraan

Dari Jakarta mereka naik kereta ke Surabaya. Entah berapa lama. Sebetulnya sih ada laporannya perjalananya berbentuk sebuah buku kecil yang diberikan kepada saya berbarengan dengan foto-foto hasil jepretan selama perjalanan itu, tapi hilang endah kemana sebelum disalin ke dalam bentuk tulisan yang lebih permanen. Maafin saya ya pacarku. Dari Surabaya-Banyuwangi -Bali-Lombok dan dilanjutkan ke tempat tujuan. Saya tidak bisa menjelaskan lebih lanjut karena bukan saya yang berangkat. Duh saya koq jadi membayangkan ikut di dalam rombongan itu, pasti nikmat kalau diingat. Hahaha, buat saya hanya nikmat buat diingat karena waktu kejadiannya pasti gaaaak kuaaaat. Capek beuh, saya bukan tipe petualang. Jadi tidak akan menikmati detail-detailnya waktu kejadian itu

Saya sebagai pacar yang ditinggal tentu saja kangen luar biasa. Sekali lagi, jangan membayangkan jaman sekarang yang bisa dengan mudahnya saling berbagi informasi kapanpun mau. Kala itu belum ada handphone apalagi smartphone semacam blackberry atau hp android, belum ada itu streaming karena internetnya juga belum dipakai oleh masyarakat umum, kenalpun belum. Jadi, ya betul-betul menikmati kerinduan itu saja sambil menghayalkan sebuah alat yang dipakai Doraemon. Sebelumnya saya pernah melihat itu di film Doraemon Jadi ceritanya begini, ada seorang anak yang sangat rindu sama ayahnya yang sedang bekerja sebagai pelaut. Maka si Nobita menyuruh Doraemon mengeluarkan sesuatu dari kantong ajaibnya. Dikeluarkanlah sebuah alat yang bisa digenggam berbentuk kotak. Alat itu seperti cermin tapi didalamnya ada gambar bergerak yang sedang menampilkan ayahnya yang sedang bekerja. Tapi alat itu bukan telpon yang  bisa saling terhubung, betul-betul hanya sebuah cermin. Dengan alat itu si anak senang karena bisa melihat ayahnya yang sedang bekerja di tengah laut seperti sedang menonton televisi. Jadi begitulah kala itu saya menghayalkan kalau alat itu benar-benar ada untuk bisa menumpas rasa rindu.
       
Kembali ke masa kini. Akan halnya mereka, rupanya pengalaman perjalanan itu benar-benar berkesan. Buktinya mereka merasa rindu ingin kembali kesana. Saya menyebutnya sebagai masa-masa kejayaan karena tenaga dan fikiran masih full. Tidak bisa membayangkan di usia sekarang, menjelang akhir kepala 3 kalau mereka kembali mengulang perjalanan itu seperti dulu. Tapi yaaah namanya juga rindu, itu kan berkaitan dengan perasaan. Perasaan masih bisa, perasaan mampu, perasaan kuat. Saya sih berharap itu akan terwujud. Karena tidak enak rasanya menahan rindu kalau tidak ditumpahkan. Semoga saja.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar